Bacaan Terbaru Selamat Membaca (^_^)

Menghidupkan Kembali Pendidikan Berbasis Surau

Ini tentang sistem yang telah mencetak tokoh hebat semacam Buya HAMKA, Bung Hatta, H. Agus Salim, H. Ghafar Ismail, Syaikhah Rahmah Al-Yunusiyah, Hj. Rasuna Said, Tan Malaka dan tokoh hebat lainnya,
.
Dulu anak-anak Minang di siang hari membantu orang tua ke sawah, belajar bertani serta belajar 'leadership' dengan menggembala,
.
Sekarang anak-anak Minang di siang hari pergi sekolah, bermain kelereng (mungkin juga main di warnet dan tempat rental PS) dan belanja,
.
Dulu anak-anak Minang di malam hari langsung ke surau untuk salat berjamaah, belajar mengaji, fikih, akidah, serta tasawuf dan akhlak,
.
Sekarang anak-anak Minang di malam hari sibuk mengganti siaran tivi, matanya terpaku pada tayangan yang kebanyakan tidak layak,
.

Begini Menikah Itu Seharusnya

Dulu, dengan menikah, seorang lelaki otomatis akan mendapatkan pekerjaan,
.
Misalnya ayah saya, yang karena menikah, beliau bisa bercocok tanam di tanah pusaka suku Pisang, menanam jeruk serta sayuran,
.
Atau Pak Ngah saya (paman), yang karena menikah dengan kakak ayah saya, beliau bisa bercocok tanam di tanah pusaka suku Simabua, kadang menanam jagung kadang menanam ubi batang, tergantung apa yang laku di pasaran,
.
Bahkan Nabi Musa AS pun, karena menikah pula, beliau bisa mendapatkan pekerjaan sebagai penggembala dari Nabi Syu'aib, terlepas dari apakah beliau menikah dahulu atau bekerja dahulu, yang penting keduanya beriringan,
.
Adapun sekarang, dengan bekerja, seorang lelaki baru bisa melangsungkan pernikahan,
.

Orang Minang Pelit (Katanya)

ado nan cari lawan? :D
Ronde I
A : Bro, orang Padang pelit-pelit ya?

B : Gak tau juga, Bro. Saya bukan orang Padang.

A : Nah lho, lalu kamu orang mana Bro?

B : 50 Kota Bro, 4 jam dari Padang. (Sana belajar geografi lagi!)

5 Tuduhan Jahat Terhadap Adat Minangkabau Beserta Bantahannya


Pertentangan agama dan adat bukanlah hal baru dalam sejarah perkembangan Minangkabau. Pada masa Belanda, isu pertentangan ini juga pernah dijadikan Belanda sebagai cara untuk memecah-belah persatuan masyarakat Minangkabau, hingga meletuslah Perang Paderi.
Alhamdulillah, bukannya memecah dan merusak Ranah Minang, Perang Paderi malah membawa berkah. Berkat Perang Paderilah muncul Sumpah Sati Bukik Marapalam pada tahun 1837, yang berbunyi, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Adat manurun, syarak mandaki. Adat nan kawi, syarak nan lazim. Syarak mangato, adat mamakai. Tuhan basifat qadim, manusia basifat khilaf.”.

Dengan adanya Perang Paderi, terciptalah keharmonisan antara adat dan Islam. Segala hal yang bertentangan dihapus, sedangkan hal yang sudah pas dipatenkan. (Terima kasih kepada Tuanku Imam Bonjol Malin Basa, Harimau nan Salapan, serta inyiak-inyiak kita yang telah berjasa)
Namun sayang, kini, pertentangan-pertentangan adat dan agama kembali mencuat. Dan lebih sayang lagi, pertentangan ini dibuat-buat oleh mereka yang tidak paham agama, tidak pula mengerti adat. Bahkan jangan-jangan, pertentangan ini juga dimunculkan untuk mengadu domba umat?

Nah, apa saja pertentangan agama dan adat yang dituduhkan?

Catatan Kecil Tentang Van Der Wijck


Sengaja saya sensor ;)

“Betapa seorang HAMKA berusaha menghilangkan sekat-sekat kesukuan bangsa kita, demi kemerdekaan,” ujar seorang kawan setelah menonton kisah cinta Zainudin dan Hayati di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKV).

Entah kenapa, saya menangkap ada nada sindiran dari pernyataan tersebut. Saya yang orang Minang, tentu merasa sedikit tidak enak, karena seolah si kawan mengatakan, “Ternyata orang Minang menganggap rendah orang nonminang,”
Hm, benarkah demikian?
Kesalahpahaman penonton akibat film TKV sebenarnya tidak bisa disalahkan begitu saja, karena memang setelah saya tonton, kesalahan ada pada sutradara. Ada satu poin penting cerita yang entah disengaja atau tidak, dihapus dan tidak dimasukkan ke dalam cerita. Fatal.

Sejatinya, tenggelamnya kapal Van Der Wijck adalah roman karya Buya Hamka, ulama yang juga sastrawan angkatan Pujangga Baru, pada tahun 1938. Sekitar 7 dekade setelah pertama kali roman tersebut terbit, sebuah film adaptasi pun diproduksi, disutradarai oleh Sunil soraya, tepatnya tahun 2013.
Roman tersebut dimulai dengan kisah Pandeka Sutan (Pendekar Sultan, jika ingin diindonesiakan) yang diusir dari kampungnya, Batipuah, Tanah Datar, akibat membunuh mamaknya. Mamak adalah saudara lelaki ibu di Minangkabau. Pembunuhan tersebut berawal dari sengketa harta.
Pandeka Sutan diusir ke Cilacap, kemudian ia menetap di Makassar. Menikah dengan Daeng Habibah, dan lahirlah Zainudin, tokoh sentral roman ini. Daeng Habibah dan Pandeka Sutan meninggal kala Zainudin masih kecil. Tinggallah Zainudin dengan Mak Base sebagai pengasuhnya.
Dari sini, barulah kisah dilanjutkan oleh film Sunil Soraya. Zainudin berlayar ke kampung bapaknya, saling jatuh cinta dengan Hayati, cinta mereka tidak direstui dan seterusnya. Penonton normal akan mengira bahwa cinta Zainudin dan Hayati tidak bisa bersatu karena Zainudin bukan orang Minang. Wajar. Namun bukan itu sebabnya, poin penting yang dihilangkan di awallah yang membuat kesalahpahaman terjadi.
Zainudin ditolak karena di tubuhnya mengalir darah pembunuh, ayahnya Pandeka Sutan. Tahukah penonton kisah Pandeka Sutan? Tentu tidak. Yang tahu hanya yang pernah membaca.
Benarkah wanita Minang tidak diperkenankan menikah dengan lelaki nonminang sebagaimana yang digambarkan dalam film TKV?
Menjawab ini, saya lebih suka untuk mengemukakan beberapa fakta.
Tentu pembaca tahu dengan Prof. Yusril Ihza Mahendra, pakar tata negara yang sudah beberapa kali menjadi menteri. Selain tokoh besar perpolitikan Indonesia, beliau juga merupakan penghulu adat Minangkabau dengan gelar Datuak Maharajo Palinduang. Tahu tidak, ternyata ayah dari Prof. Yusril bukanlah orang Minang, ayahnya berasal dari Johor Malaysia. Meskipun bukan Minang, ayahnya tetap bisa menikahi gadis Minang, dan lahirlah Prof. Yusril.
Lagi, mantan menkominfo RI, Ir. Tifatul Sembiring. Mendengar namanya, terlihat bahwa ia berasal dari Sumatera Utara. Namun, tahu tidak, ternyata ibunya adalah orang Minang, dan Ir. Tifatul juga menghabiskan masa kecilnya di Guguak Tinggi, kampung ibunya. Bahkan, Ir. Tifatul juga merupakan penghulu adat dengan gelar kebesaran Datuak Tumangguang.
Jadi, anggapan bahwa wanita Minang dilarang menikah dengan lelaki nonminang itu keliru. Bahkan, beberapa orang tua akan bangga jika anak wanitanya menikah dengan lelaki nonminang, karena keturunan yang akan dihasilkan nanti memiliki dua suku.
Berbeda dengan lelaki Minang. Memang, tidak ada paksaan untuk menikahi siapa, namun sudah menjadi anjuran, bahwa lelaki Minang tidak menikah, kecuali dengan wanita Minang. Karena lelaki dalam adat Minangkabau tidak mewariskan suku, ia hanya mewariskan nasab.
Halaman depan roman

Kedua, salahkah keluarga Hayati jika mereka lebih memilih Aziz dari pada Zainudin?
Harus dikata, bahwa manusia hanya bisa menghukum perkara lahir, sedangkan urusan batin, biar Tuhan yang mengurusnya. Aziz berasal dari keluarga berada, ia pun punya pekerjaan yang menjamin kelangsungan hidupnya.
Adapun Zainudin, ia hanya orang baru di kampung bapaknya. Tak punya pekerjaan, penduduk sekitar mengira dia hanya menumpang tinggal di rumah bibinya. Kerjanya hanya menulis dan menulis, tidak ‘berseragam’, dan dia berani mengajukan lamaran kepada bunga desa. Normal, orang tua mana yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada lelaki yang tidak jelas masa depannya?
Kesalahan keluarga Hayati hanya satu, mereka tidak meneliti lebih jauh sepak terjang Aziz dan kebiasaan judinya. Mereka juga tidak meneliti watak serta potensi Zainudin yang luar biasa. Sangat disayangkan.
Yah, ini sekedar kritik terhadap plot film TKV yang menurut saya tidak lengkap, dan ketidaklengkapan ini sangat fatal sehingga membuat banyak penonton salah sangka. Alhamdulillah, dahulu saya sempat membaca roman aslinya sehingga tahu apa yang kurang di dalam cerita.
Untuk komentar lain tentang film, manurut saya akting Herjunot Ali sebagai Zainudin sangat bagus. Saya tidak bisa berkomentar, apakah ia lihai atau tidak menirukan logat Makassar. Saya bukan orang Makassar. Namun akting lawan mainnya, Pevita, buruk. Bukan hanya kaku dalam bertingkah, logat Minangnya juga jauh dari harapan. Bagi saya, tidak ada alasan, “Maklum, dia kan bukan orang Minang,”
Hei, bukankah itu tugas seorang aktris? Memainkan perannya sesempurna mungkin? Tapi ya sudahlah, hanya orang Minang yang tahu apakah logatnya pas atau tidak. Toh, kebanyakan penonton tetap bisa menikmati cerita.
Ah, iya. Di akhir roman, sebenarnya Zainudin meninggal setelah sakit-sakitan kehilangan Hayati. Namun di film, Zainudin bisa move on, dan tak bisa dipungkiri, saya lebih suka ending di film dari pada roman aslinya.
Saya pribadi, tetap mengharapkan industri perfilman Indonesia menjadi lebih baik, bukan hanya dari segi kualitas visual, namun juga pesan moral yang terkandung di dalamnya. Khusus untuk film yang diadaptasi dari karya tulis, ada baiknya tidak terlalu mengubah poin cerita, apalagi jika sampai sefatal TKV, bahaya.
Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.. ^_^

Orang Minang Tak Seperti yang Anda Kira

salah satu buku sejarah yang sangat bagus
Orang bilang, lelaki Minang itu cemen karena tinggal di rumah keluarga istri,
Tapi mereka lupa, bahwa ternyata Rasulullah Saw juga tinggal di rumah Siti Khadijah RA setelah menikah resmi,

Orang bilang wanita Minang itu agresif karena malah mereka yang melamar pihak lelaki,

Tapi mereka lupa, bahwa dahulu Siti Khadijah pulalah yang melamar Nabi Saw,

Baca sejarah, maka Anda akan tahu betapa melekatnya budaya Minang dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari,

Karenanya, jangan asal ceplas-ceplos kalau adat tidak sesuai dengan ajaran agama, padahal pengetahuan adat masih minim, pengetahuan agama apalagi,

Punahnya Bahasa Minang? Tinggal Menunggu Waktu!



Lagi-lagi saya terlibat diskusi tentang kontroversi penyelamatan bahasa daerah dengan salah seorang kawan saya.

Saya, lelaki Minang tulen, dianggap terlalu kuat mempertahankan Bahasa Minang sehingga bahasa keliru yang digunakan oleh kawan-kawan sering saya koreksi. Sedangkan mereka, entah mengapa sejak puber, mulai menggunakan bahasa rusak. Mungkin karena faktor 'gengsi', pikir saya.

Alasan logis namun apatis selalu dikemukakan, “Yang penting paham, bukan?”

Ah, ya! Tentu saja bahasa digunakan agar lawan bicara memahami apa yang dimaksudkan oleh penggunanya. Namun, alasan ini bagi saya hanya bisa diterima jika bahasa hanya digunakan untuk berkomunikasi. Dan jika bahasa hanya berpatokan pada paham-tak paham, berarti bahasa manusia itu sama saja dengan bahasa lumba-lumba, bahasa koala, bahasa harimau sumatera, bahasa kerbau yang pasrah saja saat dicucuk hidungnya.

Pahlawan yang Dilupakan

Dikisahkan oleh Bapak Taufik Ismail, dalam buku beliau, Katastrofi Mendunia, bahwa cikal bakal pendirian Kulliyatul Banat Al-Azhar itu terinspirasi dari Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang yang didirikan oleh Syaikhah Rahmah Al-Yunusiyyah.
Tahun 1955, rektor Universitas Al-Azhar saat itu, Dr. Abdurrahman Taj, berkunjung ke Perguruan Diniyyah Putri yang didirikan tahun 1923.

Beliau takjub dengan besarnya kepedulian Syaikhah Rahmah Al-Yunusiyyah terhadap pendidikan wanita. Makanya, beliau bercita-cita untuk membangun pula perguruan putri (kulliyatul banat) di Al-Azhar.

Tak heran jika mandeh kita, Rahmah Al-Yunusiyyah mendapat gelar Syaikhah dari Al-Azhar, atau Doktor Honoris Kausa.

Syaikhah Rahmah Al-Yunusiyyahlah yang sebenarnya dan seharusnya menjadi inspirator serta tokoh kebangkitan wanita.

Kampung Bukan Kampungan

Di tanah rantau, ada yang namanya orang kampung, ada juga yang namanya kampungan,

Orang kampung itu orang yang sebelum merantau hidup terhormat di pedesaan,


Salat ke mesjid, magrib mengaji, menghirup udara segar, terjaga dari sumbang etika dan langgar norma, pergaulan aman,


Sedangkan kalau kampungan itu, dia orang kampung, namun gayanya lebih dari pada kaum borju saat dibandingkan,

Dandanannya sering berlebihan,

Mukanya lebih putih dari orang Kaukasia, lehernya kecoklatan,

Adab, Adab, Adab

Dahulu, ada tiga hal yang sangat ditakutkan orang tua agar tidak terjadi pada anak mereka,

Tidak bertuhan (ndak batuhan) adalah yang pertama,


Tidak berpikir (ndak bautak) adalah yang kedua,


Tidak beradab (ndak baradaik) adalah yang ketiga,

Mengatasi status tak bertuhan, banyak pihak peduli. Terbukti dengan adanya MDA dan kajian remaja,

Mengatasi tidak berpikir? Ada sekolah-sekolah yang siap mendidik anak2 untuk menjalankan "kincia-kincia" (logika),

Jangan Bermental Kera!

Ibu Kera terpaksa jadi janda
Ah, ya,
Ada satu lagi serial kancil yang belum kukisahkan,

Ini cerita tentang kancil dan seekor kera besar, bisa jadi siamang atau urangutan,

Kera bertanya, "Kancil, kau lihat benda besar yang bergantung di pohon itu? Benda coklat aneh yang bentuknya sedikit merusak pemandangan?"

Kancil tahu bahwa benda yang ditunjuk si kera adalah sarang lebah, yang di dalamnya terdapat manisan,

Kancil tak ingin si kera mendekat, apalagi mengganggu, karena lebah bisa membunuh hanya dengan sengatan,

Taimpik di Ateh

Ada lagi kisah lain, saat kancil mendapati seekor kerbau dililit oleh ular yang berdiameter kurang lebih 30 senti,
Kerbau minta bantuan kancil, karena ia merasa telah dizalimi,

Karena sebelumnya, ia menolong ular tersebut dari himpitan batang kayu. Namun saat ular bebas, malah ia berusaha menjadikan kerbau sebagai santapan bergizi,

Begitulah, air susu dibalas dengan air tuba, umpama orang yang tak tahu balas budi,

Kancil menggunakan kelihaian berkomunikasi,

Cadiak nan Indak Galia

Lain dengan buaya, lain pula kisah kancil dengan macan belang,
Saat dijepit macan, kancil berusaha mencari peluang,

Ia katakan pada macan, bahwa ada mahkota raja hutan yang harusnya dipakai macan, sehingga penampilannya sebagai raja hutan tidak kurang,

Kancil menawarkan jasanya untuk mengantarkan macan menuju tempat dimana terdapat mahkotanya yang hilang,

Setelah jauh berjalan, mereka melihat sesuatu yang berwarna indah, berkilau terrgantung di sebuah batang,

Takuruang di Lua

Ijinkan aku berbagi tentang kisah kancil dan buaya,
Kisah saat di pinggir sungai, kancil digigit kakinya oleh buaya,

Kancil takut? Pasti! Namun menariknya ia masih bisa mencari solusi lolos dari bahaya,

Ia tanyakan pada buaya, "jumlah buaya di sungai ada berapa?"

Buaya tentu tidak bisa menjawab, dan dengan lihai kancil pun menawarkan bantuannya,

Ia bersedia membantu menghitung jumlah buaya, asal dilepaskan terkaman kakinya,

Bukik Tinggi, Kurai dan Bukittinggi, Mana yang Dahulu Menjadi Ibukota PDRI?


Kadang saya pun bingung bagaimana untuk membahasakan, karena nyatanya, empat nama di atas berbeda, meski sedikit orang yang menyadari,
 
Baiknya kita mulai dari Agam, sebuah Kabupaten Madani,

 

Ia kokoh mengelilingi sebuah kota kecil di bagian timurnya, yang bernama Bukittinggi,

Tapi jangan salah, Bukittinggi sekarang berbeda dengan Bukittinggi yang dulu pernah menjadi ibukota PDRI,

Selamatkan Bahasa Daerah!


Indahnya Bahasa Arab, dilindungi Al-Quran keasliannya,

Indahnya Bahasa Arab, banyak dan luas kosakatanya,
 

Indahnya Bahasa Arab, memiliki seni tinggi saat digunakan sebagai media sastra,

Namun sayang, nyaris tak ada orang Arab yang menggunakannya,

Sayang, seolah lebih banyak orang asing yang mendalaminya,

Bahkan terkadang, orang asing lebih terjamin kefasihannya,

Harato Pusako, Sekilas

Bismillah,

Agak berat untuk dibaca, namun aku sudah berusaha agar mudah dipahami dan tidak membuat berat mata,

 

Warisan berbentuk rumah dan tanah tak jarang menimbulkan sengketa,

Beberapa menyarankan agar benda-benda di atas dijual hingga bisa dibagi rata,

Logis? Tentu jika kita hanya melihat dari sudut pandang sempit pembagian harta,

Samba Minang Made by Jao


Ado carito ciek lah,

Banyak urang awak nan di rantau taragak jo samba nan di kampuang,

Ado nan taragak jo dendeng, goreng baluik, tambunsu, gulai tunjang, tanak ijau, pokokno samba asli nan sari tadapeki di rantau,

A banyak jo duh nan dibaeno masak surang, dek ndak do urang nan manjua,

Kita Punya Alasan untuk Tidak Sombong

Aku menangkap kesamaan antara Minang dan Sunda,

Saat di Mesir, aku sadar bahwa Urang Sunda adalah orang yang tawadhu' dan lemah lembut budinya,

 

Kenapa? Karena mereka menyebut diri mereka sendiri "Abdi", bagi yang belajar Arab pasti tahulah artinya,

Saat kelas 4 di pesantren, saat membaca Roman "Kasih Tak Sampai", aku juga sadar bahwa orang Minang pun memiliki sifat tawadhu' dan rendah hatinya,

Larangan Manikah Sasuku, Masalahkah?


Menikah, siapa yang tak ingin menikah? Saat ada rejeki dan usia mencukupi, hanya ada dua golongan yang tak mau menikah. Yang pertama, orang yang "tukar selera" (Anda tahulah maksudnya), yang kedua orang yang biasa seks bebas suka-suka. Tapi aku yakin, para pembaca bukanlah salah satu golongan di atas bukan?

Selain sunnah agama Islam, menikah juga merupakan fitrah manusia yang akan menimbulkan banyak kerusakan jika ditinggalkan.
 
Support : Facebook | Twitter | Google+
Copyright © 2013. Al-Fatih Revolution Brotherhood - Tolong sertakan sumber saat mengutip :)
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger