Home » » Larangan Manikah Sasuku, Masalahkah?

Larangan Manikah Sasuku, Masalahkah?


Menikah, siapa yang tak ingin menikah? Saat ada rejeki dan usia mencukupi, hanya ada dua golongan yang tak mau menikah. Yang pertama, orang yang "tukar selera" (Anda tahulah maksudnya), yang kedua orang yang biasa seks bebas suka-suka. Tapi aku yakin, para pembaca bukanlah salah satu golongan di atas bukan?

Selain sunnah agama Islam, menikah juga merupakan fitrah manusia yang akan menimbulkan banyak kerusakan jika ditinggalkan.
Aborsi menjadi fenomena rutin, membengkaknya populasi anak buangan, tatanan hidup bermasyarakat yang mulai menyerupai hewan. Intinya menolak fitrah akan menimbulkan kerusakan. 

 Karena hal fitrah, tak heran jika menikah di masing-masing suku dan kebudayaan memiliki aturan-aturan tersendiri. Di Ranah Minang, menikah biasanya didahului dengan acara adat seperti batimbang tando dan lainnya. Menikah dalam adat Minang pun memiliki aturan-aturan yang harus dipatuhi. Untuk saat ini, permasalahan larangan manikah sasuku paling banyak diserang oleh orang-orang yang tak paham. Makanya, saya ingin menyampaikan mengapa Adat Minang melarang pernikahan sasuku, ditinjau dari logika dan manfaat sosial.


Tinjauan Logika

Sebelum menyelam ke dalam kajian adat yang pasti masih banyak yang tidak paham, ada baiknya penulis memberi analogi yang mudah dicerna dan memang terjadi di sekitar kita.

Tentu Anda pernah menikmati masa-masa indah di sekolah bukan? Ah, tak usahlah jauh mengenang adik kelas yang dulu menawan atau PR menumpuk yang sering membuat kewalahan. Saya hanya ingin Anda mengingat tentang aturan berseragam dan berpenampilan.

Baiklah, umumnya sekolah-sekolah melarang para murid laki-lakinya untuk memiliki rambut panjang. Nah, lho! Bukannya rambut panjang sah-sah saja karena tidak ada larangannya dalam agama? Betul sekali! Tetapi bukankah sekolah juga berhak melarang para murid laki-lakinya berrambut panjang karena melihat aspek manfaat keseragaman dan kerapian bukan? Makanya larangan berambut panjang boleh-boleh saja diberlakukan.

Ada lagi, tentu Anda pernah pergi ke pasar, boleh pasar swalayan, boleh juga pasar ikan. Saya juga tak ingin pikiran Anda melayang pada becek pasar ikan ataupun kasir swalayan yang rupawan, namun coba pikirkan, adakah aturan membuka toko dan lapak?

Tentu saja ada! Negara melarang pembukaan toko liar yang tak punya izin dan belum punya nomor pajak. Padahal agama menganggap dagang itu sah-sah saja tanpa membayar pajak bukan? Namun bukankah negara juga punya hak untuk melarang karena mempertimbangkan maslahat kerapian tata kota serta keteraturan lokasi perdagangan?

Poin penting yang dapat kita tarik di sini adalah bahwa sebuah institusi, perkumpulan ataupun lembaga boleh saja melarang sesuatu yang dibolehkan agama karena mempertimbangkan maslahat yang ada di dalamnya. Yang tidak boleh itu adalah melarang sesuatu yang diwajibkan agama. Saat lembaga melarang pelaksanaan salat, jilbab, khitan dan kewajiban-kewajiban lainnya, maka angkat suara adalah tindakan yang harus dilakukan.

Ini pulalah salah satu bentuk komprehensifnya ajaran Islam. Ada taat kepada Allah, taat kepada Rasul Saw, ada pula taat kepada ulil amri. Sekolah, negara, dan adat adalah di antara bentuk ulil amri yang wajib ditaati selama bukan dalam maksiat.

Tentu semua orang di negara ini sepakat dengan dua analogi yang tadi saya paparkan. Sekarang mari kita kaitkan dengan fenomena larangan nikah sasuku.

Manikah dalam agama Islam boleh dengan siapa saja, selama bukan dengan anggota keluarga yang terikat hubungan mahram. Ingat, sepupu itu bukan mahram, sehingga bersentuhan dengan sepupu lawan jenis dapat membatalkan wuduk. :D

Namun kenyataan yang kita hadapi kini adalah bahwa adat melarang pernikahan yang terjadi antara dua insan yang memiliki suku yang sama, berada dalam satu nagari (kelurahan) yang sama, dan memiliki datuak yang sama. Wow! Berani sekali adat melarang sesuatu yang dibolehkan agama?

Pikirkan kembali! Dalam hal ini adat tidak melarang sesuatu yang diwajibkan agama, namun adat melarang sesuatu yang didiamkan agama. Tidak diperintahkan, tidak pula dilarang. Masih banyak pasangan yang bisa didapat dari luar suku si calon pengantin. Jikapun hati telah terpaut hingga mencapai taraf hubban jamma, hidup bersama tidak di atas tanah pusako bukan masalah besar bukan? :)

Berbeda halnya, jika ada perintah agama yang memerintahkan kita untuk menikahi kerabat satu suku, dan adat melarangnya. Ini baru patut digugat. Tapi ternyata tidak ada perintah demikian bukan?

Tinjauan Manfaat-Mudarat

Seperti yang saya paparkan tadi, sebuah lembaga tak mungkin melarang sesuatu tanpa melihat manfaat serta mudarat yang bisa saja dimunculkan. Apalagi adat Minang yang sedari dulu terkenal dengan cadiak-pandainya. Dalam hal larangan manikah sasuku, saya bisa menjabarkan beberapa manfaat serta mudarat yang memang dapat terjadi jika larangan ini tak diindahkan.

Semua orang Islam tahu bahwa agama Islam adalah agama rahmat bagi sekalian alam, sehingga seluruh muslim dianjurkan untuk menjalin silaturrahmi serta pandai-pandai mencari kawan. Leluhur Minangkabau dahulu pastinya juga sudah meraba hal ini, sehingga mereka membuat aturan larangan manikah sasuku, karena menikah dengan kerabat satu suku hanya akan mempersempit pergaulan. Saat pernikahan terjadi antara dua suku yang berbeda, maka tak diragukan lagi dua suku tersebut akan memiliki ikatan, sehingga tercipta keharmonisan.

Lagi pula, bukankah menikah dengan orang yang satu suku, satu ormas, satu partai, adalah bentuk fanatisme buta? Lain cerita kalau menikah dengan yang lain agama. Ini baru kita gugat.

Ah, iya, saya juga teringat kepercayaan yang banyak tersebar, entah salah atau benar, namun tak ada salahnya menjadi bahan pertimbangan karena kepercayaan ini bagi sebagian orang sudah mengakar. Kepercayaan itu adalah, semakin jauh hubungan darah antara suami dan istri, maka semakin berkualitas keturunan yang akan dianugerahkan. Umar bin Khatthab pun pernah berkata, "Kalian sudah mulai melemah. Nikahilah wanita-wanita asing (yang jauh kekerabatannya, agar didapatkan keturunan yang kuat)."

Tentang mudarat, tentu Anda tahu bahwa pernikahan tak selalu berjalan mulus. Terkadang pernikahan berakhir di tengah jalan, bahkan tak jarang cinta yang melandasi pernikahan dulu kini berubah menjadi kebencian. Dahulu loyang sekarang besi, dahulu sayang sekarang benci, ungkap sebuah pantun lama.

Pasangan satu suku yang menikah, kemudian pernikahan tersebut berakhir kebencian dapat memberi dampak buruk pada eksistensi suku tempat keduanya bernaung. Perpecahan tak dapat dihindarkan. Tentu saja nanti akan ada pihak yang membela istri, ada pula yang akan membela suami. Perpecahan di dalam satu suku adalah sebuah aib besar, karena pasti akan susah untuk didamaikan.

Berbeda dengan pertengkaran suami-istri yang berbeda suku. Saat pertengkaran mencapai titik puncak, masing-masing pihak bisa mengirim utusan untuk melakukan perundingan. Kapan perlu, datuak dari masing-masing suku bisa turun tangan. Makanya tak heran jika menikah dengan pasangan berbeda suku lebih diutamakan.

Mari sama-sama kita ubah mindset, karena tak dapat dipungkiri, beberapa orang yang baru belajar Islam menggeneralisir seolah semua adat itu bertentangan dengan agama. Pikirkan lagi! Dua abad lalu perpecahan antara kaum adat dan kaum agama seperti yang terjadi sekarang pernah terjadi, namun dengan bijak perpecahan tersebut dapat terselesaikan. Apa penyelesaiannya? Itulah asas “Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah, Adaik manurun, Syarak mandaki, Adaik nan kawi, Syarak nan lazim, Syarak mangato Adaik mamakai, Tuhan basifat Qadim, manusia basifat khilaf” yang dikenal dengan Sumpah Sati Bukik Marapalam tahun 1837.

Pahamilah Islam, dalami pula adat, maka Anda akan temukan bahwa Tuanku Imam Bonjol serta pendahulu Minang lainnya adalah orang-orang cerdas yang dapat menegakkan Islam di Ranah Minang, menghapus segala bentuk maksiat dari adat, membalutnya dengan ajaran taat.

Pasti ada di antara pembaca yang akan bertanya-tanya, jika memang tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan-kawan Minang, dan memang membahas persoalan adat Minang, kenapa saya tidak tulis langsung berbahasa Minang saja? Ah, tentu Anda tahu bahwa kebanyakan orang yang memprotes permasalahan larangan manikah sasuku ini kebanyakan adalah orang yang tak paham adat. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim, mereka tidak bisa berbahasa Minang yang baik dan benar. Maka saya pun mengajak saudara untuk menjaga bahasa ibu kita ini. Lihat di sini : Punahnya Bahasa Minang.

Saya pun tidak menulis ini dengan bahasa berat seperti bahasa skripsi dan disertasi. Saya tulis dengan bahasa ringkas, mudah dipahami dan dengan sedikit humor saya bumbui. Semuanya agar Anda tidak pusing saat membaca, tidak pula merasa digurui.

Jika terdapat kesalahan, saya mohon maaf. Terakhir saya juga minta Saudara pembaca untuk mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim di seluruh dunia agar dikuatkan akidah, diistiqamahkan amal, serta dimudahkan dalam segala urusan. Doakan pula saya agar dapat menyelesaikan pendidikan di sini dengan hasil memuaskan seperti yang diharapkan.

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.. ^_^

60 komentar:

  1. mantap sanak...penjelasan lumayan gamblang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kok ado nan paralu ditambah insyaAllah ambo siap manarimo masukan.. :)

      Hapus
  2. Makin mantap tulisan abang nii...

    BalasHapus
  3. Makin mantap tulisan abang nii...

    BalasHapus
  4. sasuai ambo jo penjelasannyo, ringan dan mudah dipahami ...:)

    @CandraDenni ~ www.dennicandra.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih. mudah-mudahan bermanfaat.. :)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Bagaimana kalau antara satu rumpun suku contoh: simabua & tanjuang, namun beda kelurahan, beda datuak, bahkan beda kecamatan? Karena simabua & tanjuang masih 1 rumpun suku. Mohon pencerahannya..

      Hapus
    4. dalam adat tidak masalah, karena datuaknya sudah berbeda. yang tidak boleh dalam adat adalah yang datuaknya sama dan jika datuaknya sama, pasti mereka satu suku dalam satu kanagarian. :)

      Hapus
  5. mohon maaf sebelumnya bang, saya mau tanya tentang adat balimau dan mando'a memakai kumayan?apakah bertentangan dengan syara?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertama, mari kita bersifat netral dulu untuk menilai balimau dan kumayan.

      Balimau pada dasarnya merupakan mandi, membersihkan diri demi menyambut bulan yang suci. kita bersihkan diri karena bulan yang suci datang. ini adalah perbuatan yang sangat terpuji.

      namun pada prakteknya, orang-orang malah balimau di tempat pemandian umum, batang aia, kolam renang. bukannya menyucikan diri dengan hadirnya ramadan, malah menambah dosa. ini yang diwanti-wanti agama.

      pertanyaannya, apakah balimau itu adat Minang? tidak. itu hanyalah ajaran dari orang-orang tua, sebagai praktek menghormati ramadan. orang-orang tua pun balimau tidak di tempat umum, namun di rumah masing-masing. ini yang dinamakan balimau sebenar balimau.

      balimau di tempat umum itu bukan balimau. itu hanya perbuatan semi-cabul yang dibungkus label 'balimau'. jika saudara ingin balimau,lakukan di rumah sendiri. :)

      Sekarang untuk kemenyan. pada dasarnya, kemenyan digunakan untuk harum-haruman. namun karena banyak dukun yang menggunakan kemenyan, orang-orang jadi ikut mengharammkan kemenyan, padahal yang haram adalah perdukunannya.

      jadi, jika kemenyan digunakan untuk harum-haruman sambil salat, mengaji, tiddur,tidak masalah.

      jika kemenyan digunakan sebagai harum-haruman saat menyantet ( :v ), yang haram bukan kemenyannya, namun santetnya.

      perlu pula diketahui, bahwa Rasulullah sangat menyukai harum-haruman, baik parfum, maupun pengharum ruangan. dan kemenyan termasuk pengharum ruangan.

      mudah-mudahan bermanfaat. :)

      Hapus
    2. terima kasih atas jawabannya bang..

      Hapus
    3. sama-sama. tolong sampaikan juga kepada kerabat dan kawan-kawan, terutama yang perempuan, menyambut bulan ramadan nanti, jangan dibuka dengan balimau yang menambah dosa. balimaulah di rumah, lebih selamat, lebih berkah. :)

      Hapus
    4. assalamu'alaikum pak ko ambo nak batanyo manga kawin sasuku dilarang adat tp klu di agama badoso ndak pak.


      Hapus
  6. Penjelasan analogi nyo mantap bana da...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, mudah-mudahan bermanfaat :)

      Hapus
  7. taraso manfaaik nyo katarangan uda nan tun..
    nan kalam lah tarang, nan samak lah jilah
    mokasih da, semoga berkah dan lestari adaik wak..

    BalasHapus
  8. BAGUS, Smoga bertambah mendalam. Kalau boleh mempertegas mengenai larangan kawin sasuku, (dalam kutipan : Umar bin Khatthab pun pernah berkata, "Kalian sudah mulai melemah. Nikahilah wanita-wanita asing (yang jauh kekerabatannya, agar didapatkan keturunan yang kuat)." Pesan yg kuat di sini adalah MENGHINDARI lahirnya bayi cacad, baik cacad lahir, maupun cacad mental. Terima Kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya da. memang begitulah efek dari segi genetik, belum lagi efek sosial dan lainnya.. sama2 da..

      Hapus
  9. Mohon nasehat nya bg, saya sekarang mengalami ini, rencana mau membawa hub. Ke yg lebih serius ternyata kami sesuku, katanyaa, dan setelah saya usut2 ternyata dahulu nenek moyang saya menompang tinggal d daerah keluarga si perempuan, jadi keluarga saya menompang ke suku mereka, nah sekarang kami d larang utk lanjut, yg saya tanyakan, apakah memng benar kalau menompang suku ke suku lain kita yg menompang tidak bisa menikah dengan keluarga asli suku tsb? .dan adakah solusi utk maslah ini, karna kami sudah saling yakin utk lanjut je tahap lebih serius. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin langsung kepada solusi, karena memang itu sudah terhitng satu suku. adat melarang bukan mengharamkan, sehingga solusinya, menikahlah, dan tinggal di kanagarian (kampung) lain, jauh dari bibir sumbang dan gunjing berketerusan. wallahu a'lam

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. hd klo nikah sesuku beda datuak tp dlm nagari yg sama bleh nggk min???

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah boleh, karena yang dilihat adalah datuak dan rumah gadangnya

      Hapus
  12. Makasih Da atas penjelasan nya,...kalo sasuku beda nagari diperbolehkan ndak dlm adat Da.

    Ohya Da byk kwn2 wak nan batanyo klo adat maminang itu merendahkan kaum perempuan.katanya malu2in, knp harus wanita yg meminang bkn yg laki2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan perempuan yang maminang, tetapi keluarga perempuan. tidak ada istilah malu-maluin bagi orang yang ingin beribadah. bukankah hafsah dan khadijah yang melamar rasulullah Saw?

      Hapus
  13. Assalamualaikum wr wb...
    Terimakasih atas penjelasan nya ..
    Tolong beri penjelasan tentang menikah sesuku tapi berbeda datuak..
    Kami sama sama bersuku pilliang..
    Tetapi kami berbeda datuak karena kami berbeda daerah..
    Mohon jaeaban nyaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada di tulisan di atas

      "Namun kenyataan yang kita hadapi kini adalah bahwa adat melarang pernikahan yang terjadi antara dua insan yang memiliki suku yang sama, berada dalam satu nagari (kelurahan) yang sama, dan memiliki datuak yang sama. Wow! Berani sekali adat melarang sesuatu yang dibolehkan agama?"

      Hapus
    2. Assalamualaikum kak,boleh nanya kalo sesuku tapi kota beda datuk beda daerah pun beda,contohnya dia dia di perbatasan payakumbuh dg riau sedangkan saya kota solok. Gimana kak?? Mohon penjelasannya ya kak..

      Hapus
    3. Assalamualaikum kak,boleh nanya kalo sesuku tapi kota beda datuk beda daerah pun beda,contohnya dia dia di perbatasan payakumbuh dg riau sedangkan saya kota solok. Gimana kak?? Mohon penjelasannya ya kak..

      Hapus
    4. Assalamualaikum kak,boleh nanya kalo sesuku tapi kota beda datuk beda daerah pun beda,contohnya dia dia di perbatasan payakumbuh dg riau sedangkan saya kota solok. Gimana kak?? Mohon penjelasannya ya kak..

      Hapus
    5. Assalamualaikum kak,boleh nanya kalo sesuku tapi kota beda datuk beda daerah pun beda,contohnya dia dia di perbatasan payakumbuh dg riau sedangkan saya kota solok. Gimana kak?? Mohon penjelasannya ya kak..

      Hapus
  14. Assamu'alaikum da, , awak pcaran sasuku da, ,tapi insya allah ka lanjuik ka pernikahan da
    Tapi nagari nyo beda samo awak da
    Apo buliah nikah sasuku tapi beda nagari da

    BalasHapus
  15. Maaf bng apa saya boleh bertanya,

    Orang tua kami sama2 suku chaniago, tetapi beda daerah, orang tua saya lintau, orang tua calon saya orang batu sangkar,

    Apa itu boleh nikah?
    Apa itu beda nagari?

    Dan jelaskan apa yg dmaksud beda nagari da?

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh menikah, dan itu beda nagari.

      yang dimaksud nagari adalah daerah di bawah kecamatan. misalnya kecamatan saya, tilatang kamang, kanagariannya ada 3 : Kapau, koto tangah, gaduik. biasanya satu kanagarian ada 4 suku minimal. kalau yang satu pisang koto tangah, satu lagi pisang kapau, boleh.

      bahkan, walaupun sama2 pisang koto tangah, tapi kalau datuaknya sudah beda, boleh.

      wallahu a'lam.

      Hapus
  16. Assalamualaikum Da,

    Boleh mnt sharingny, sy sdg brhbngan dgn ikhwan yg trnyata sesuku dgn sy, yg sama2 jambak. Namun berbeda kota. Sy mngatakan kpd kluarga bhwa hati sy memilihny. Mamak dan ayah sy melarang keras sebab,mmng mereka keras dlm adat namun amat kurang pemhaman dgn agama. Sy jabarkan apa yg trcantum dr qur'an,tetapi berhari2 sy diserang keluarga.dgn alasan anak2 kami kelak akan cacat fisik. Sesuatu yg menurut sy mndahului ketentuan Allah,
    Hingga, ibu sy mmberikan solusi "kalau calon saya it,mengambil kluarga ( suku ) lain untuk jd keluarga angkat. Contohny, mengambil suku melayu / lainnya untuk jd kluarga angkatny.

    Kira2, bisakah kami melakukanny?

    Dan, baiknya kami lanjut atau menikah sj?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikumsalam warahmatullah. setahu saya ya, asal sudah beda datuak, walaupun sukunya sama, boleh2 saja menikah. contoh, pimpinan pesantren diniyah 5 jurai, ustaz masykur, suku beliau pisang sungai pua, istri beliau juga pisang, tapi dari baso. beliau tetap menikah.

      yang terjadi di saudari bisa jadi disebabkan karena keluarga sudah tidak paham lagi dengan istilah "adat salingka nagari". ini efeknya saat datuak yang diangkat tidak berkompeten, dan pendidikan adat di sekolah tidak menyeluruh. perlu diperbaiki lagi pemahaman kita thd adat.

      solusi dari ibu saudari mungkin juga bisa dipertimbangkan. keluarga ayah saya dulu juga pindah payuang datuak, tapi tetap suku yang sama. dari simabua tanah bato ke simabua bukik gadang. begini adat di luhak nan asal (tanah datar, agam, 50 koto). kalau di daerah rantau, mestinya merujuk ke asal adat.

      wallahu a'lam

      Hapus
  17. Assalamualaikum wr.wb.
    Semoga uda fakhry sehat selalu, dlm mnjalani hari, melihat seluruh posting n komentar diatas, sya sngat trbantu, terharu, dan terbuka kembali pkiran. Trimo kasih bnyak uda.

    Klau uda ndk kbratan,sya mau brtanya da.
    Saya menjalani suatu taaruf, prtemanan yg sngat dekat, kami merasa sngat cocok, kami saling mmbantu, sling memotivasi, dan kami tak merusak satu sm lain, atau pun mnyakiti. Namun kami sesuku, saya koto kaciak, dia melayu, tapi nagari kami berbeda.
    Selama ini kmi selalu berjuang berdua, kami sejak prtma brtmu merasa cocok dan kdekatan yg dijalankan dgn niat baik kami ini, kami jalani tnpa sepengetahuan org tua dia, sbgai mna ortu nya bersikeras utk melarang kdekatan kami lantas kami sesuku.
    Perasaan kami semakin mndalam, smakin dekat, dan tak sanggup utk berpisah.
    Suatu hri ibunya mngetahui hbungan ini, dan kcewa pda anaknya tsb, dan ibunya ingin bicara langsung dgn sya, bicara dn mnjelaskannya.
    Apa yg hrus sya jwab uda, sya ingin ibu nya mngrti dan bgaimana ibunya jika diposisi kami

    Trimo kasih uda, smoga uda bisa mmbantu ambo yg dlm ujian iko

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Assalam mualaikum wr wb
    Uda, mau tanya kami sedang menjalankan suatu ta'aruf kami sama terlahir di jakarta tapi org tua kami sama2 satu suku tanjung tapi berbda negari..org tua kami melarang menikah dengan satu suku sebab nanti pernikahan kami ga akan samawa,dan mempunyai keturunan cacat fisik,

    dalam agam sebenernya di larang tidak ?
    Dgn satu suku berbeda nagari

    Dan,sebaikny kami tidak menikah atau menikah ?

    Tolong jawab ya uda fakhry dan saranya ??

    BalasHapus
  20. Assalamualaikum da.. saya mau tanya.. klu suku jambak sama suku pitopang bisa nikah ngak..klu di tanya sama orang tua katanya 1 suku.. tpi daerah nya dah beda yang laki2 di payakumbuh.yang cwek di pasaman.makasih da..

    BalasHapus
  21. Assalamualaikum da.. saya mau tanya.. klu suku jambak sama suku pitopang bisa nikah ngak..klu di tanya sama orang tua katanya 1 suku.. tpi daerah nya dah beda yang laki2 di payakumbuh.yang cwek di pasaman.makasih da..

    BalasHapus
  22. Assalamualaikum da.. saya mau tanya.. klu suku jambak sama suku pitopang bisa nikah ngak..klu di tanya sama orang tua katanya 1 suku.. tpi daerah nya dah beda yang laki2 di payakumbuh.yang cwek di pasaman.makasih da..

    BalasHapus
  23. Assalamualaikum bg,

    Saya mo nanya bg,... Boleh gk bg kita nikah sesuku ? Soal nya suku nya kita jambak bg .... Tapi kita beda nagari dan 1 kabupaten bg ... Sudah merasa cocok dan merasa ada kesamaan pemikiran .. Boleh gk bg nikah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adat saleba alam pamakaian bakampuang2. Jd apo kecek nniak mamak dst c lh bg.hahaha

      Hapus
  24. mohon maaf sebelumnya. sy mau bertanya, kalau dalam adat minang adalah perempuan yang melamar pihak lelaki, lalu bagaimna jika ada lelaki minang yang hendak menikahi perempuan sunda. sedngkan dalam adat sunda adalah lelaki yang melamar pihak perempuan??

    BalasHapus
  25. Kini ado contoh bg. 4 hukum bagi sbuah pernikahan. Dsini termasuk yg hukumnya wajib dimana kedua belah pihak sudah mapan dan siap untuk menikah. Dan berniat baik untuk menjalin keluarga. Mereka diberikan cinta satu sama lain (semua tau perasaan datangnya dari mana). Tidak mahram. Dari keluarga jauh.tp hanya saja mereka satu suku. Terus mereka tidak disetujui oleh mamak. Dan akhirnya niat baik gagal. Masing2 depresi. Malahan ada yang dipaksa nikah/dijodohkan demi menghindarkan nkh ssuku ini. Kalau difikir2 mereka yang sudah wajib menikah trus gara2 sasuku tidak jadi. Gimana y hukumnya. Taulah yang namanya wajib yah kalau tidak dilaksanakan kan berdosa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah maaf kalau ad slh penyampaian. Banyak di zaman sekarang pemakaian adat sekarang terbalik. Pernikahan sasuku seharusnya dicarikan jln yg bijak oleh cadiak pandai. Termasuk alim ulama dan ninik mamak.mlhan dijadikan senjata untuk menjatuhkan suatu keluarga. Sedangkan kato nan ampek tidak terlaksana lagi. Mlhn bnyak wanita yg mmbuka aurat berkeliaran d dekat mamak. Tp mamak tidak ada yg melarang satu orangpun. Bhkn seorang mamak tidak sanggup mlrang anak prempuannya buka aurat jln2 kluar karena perkembangan zaman. Mlhn niat baik sseorang menghalalkan diri supaya tidak terjadi zinah malah dilarang

      Hapus
  26. Oh ya satu lagi. Disuatu kmpung isi muda mudinya banyak yg satu suku. Baa ko lai. Lai basuo cewek kmnkn yo baru. Lai ado nn lain. Tp ndak ado nn katuju. Baa trimo c yang ndak katuju tu lai? Atau barangkek c dari nagari ko lai. Ndak ado cewek tuak awak dsiko lai. Untuak urang c nyo lai. Untuang jo parasaian muda mudi minang

    BalasHapus
  27. Uda.. numpang nanyo.
    awak ado dakek samo urang 1 suku tpi beda daerah..
    misalx wak bungo pasang nyo air pacah.. ba'a tu sa.. tapi kami dak ado pertalian darah do..
    jauh malah..

    BalasHapus
  28. Bg saya mau brtanya, apakah boleh ya klau melanjutkan hbungan sampai ke jenjang prnikahan apabila sesama suku chaniago dengan chaniago, saya berasal dri kota baso suku chaniago, sedangkan cewek saya orang pesisir selatan dan juga suku chaniago, tolong kasih penjelasannya bg...

    BalasHapus
  29. Assalamualaikum..pak saya sdh lama mbjalin hbngan dengan org yg sya sayangi..kami sma2 suku chaniago..tpi cowk saya kmopungnya di pesisir selatan batang kapas.sedangkan saya di pdang juga suku chaniago..apakah kami boleh menikah..???

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya

Hanya seorang kawan, yang ingin menjadi lebih baik, dan berbagi manfaat :)
 
Support : Facebook | Twitter | Google+
Copyright © 2013. Al-Fatih Revolution Brotherhood - Tolong sertakan sumber saat mengutip :)
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger