Home » » 5 Tuduhan Jahat Terhadap Adat Minangkabau Beserta Bantahannya

5 Tuduhan Jahat Terhadap Adat Minangkabau Beserta Bantahannya


Pertentangan agama dan adat bukanlah hal baru dalam sejarah perkembangan Minangkabau. Pada masa Belanda, isu pertentangan ini juga pernah dijadikan Belanda sebagai cara untuk memecah-belah persatuan masyarakat Minangkabau, hingga meletuslah Perang Paderi.
Alhamdulillah, bukannya memecah dan merusak Ranah Minang, Perang Paderi malah membawa berkah. Berkat Perang Paderilah muncul Sumpah Sati Bukik Marapalam pada tahun 1837, yang berbunyi, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Adat manurun, syarak mandaki. Adat nan kawi, syarak nan lazim. Syarak mangato, adat mamakai. Tuhan basifat qadim, manusia basifat khilaf.”.

Dengan adanya Perang Paderi, terciptalah keharmonisan antara adat dan Islam. Segala hal yang bertentangan dihapus, sedangkan hal yang sudah pas dipatenkan. (Terima kasih kepada Tuanku Imam Bonjol Malin Basa, Harimau nan Salapan, serta inyiak-inyiak kita yang telah berjasa)
Namun sayang, kini, pertentangan-pertentangan adat dan agama kembali mencuat. Dan lebih sayang lagi, pertentangan ini dibuat-buat oleh mereka yang tidak paham agama, tidak pula mengerti adat. Bahkan jangan-jangan, pertentangan ini juga dimunculkan untuk mengadu domba umat?

Nah, apa saja pertentangan agama dan adat yang dituduhkan?


1. Warisan dalam adat Minangkabau hanya jatuh pada perempuan

Saat ada yang mengatakan bahwa lelaki tidak mendapatkan harta warisan di Ranah Minang, di situ kadang saya geli. Bagaimana tidak?

Dalam adat Minangkabau, ada 3 macam harta. Pertama, harato pusako tinggi. Kedua, harato pusako randah. Ketiga, harato pancarian.

Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa harato pancarian adalah milik pribadi, sehingga jika si pemilik meninggal, maka harato pancarian ini akan dibagikan kepada ahli warisnya sesuai dengan aturan faraid dalam Islam. Laki-laki dapat, perempuan juga dapat, dengan syarat ada dalam daftar penerima warisan.

Berbeda dengan harato pusako tinggi dan harato pusako randah. Dua harta ini bukanlah milik pribadi si mayat, melainkan milik kaum. Istimewanya, harta ini hanya mencakup benda properti ; tanah, kebun, rumah, tanah pekuburan, kolam.

Dalam kepengurusan harta ini, yang ada hanyalah hak untuk menggunakan, tidak ada hak kepemilikan, sehingga adalah dosa besar, jika harta ini dijual kemudian hasilnya dimakan sendiri tanpa tuntutan keadaan yang mengharuskan.

Karena harato pusako tinggi dan harato pusako randah pada dasarnya adalah milik kaum, maka saat si pengelola meninggal, dua harta ini tidak diwariskan kepada ahli warisnya, melainkan dikembalikan kepada kaum, kemudian pimpinan adat (Niniak Mamak) akan memutuskan bagaimana nasib tanah ini kemudian.

Bukankah pengertian mawaris dalam fikih adalah : Aturan-aturan fikih dan matematika, yang dengannya diketahui bagian setiap ahli waris dari harta peninggalan si mayat.

Karena yang dibagikan hanyalah harta peninggalan si mayat, maka yang bukan harta si mayat dikembalikan kepada pemilik aslinya. Begitu pula dengan harato pusako randah dan harato pusako tinggi, dikembalikan kepada kaum.

Hal ini juga membantah tuduhan bahwa tanah di Minangkabau itu seluruhnya haram. Bagaimana mungkin tanah tersebut haram, jika lahan dahulu dibuka secara bersama-sama, kemudian dijadikan milik bersama (milik kaum)? Yang haram itu adalah saat harta milik bersama ini kemudian dijual, kemudian hasil penjualannya dimakan. Lebih parah lagi, setelah tanah pusaka dijual, di atasnya dibangun gereja atau rumah ibadah lain. Na'uzubillah.

Memang, dalam prakteknya, pembagian harato pusako ini menimbulkan banyak perselisihan. Menurut hemat penulis, perselisihan yang muncul adalah karena para pimpinan adat (Datuak) yang seharusnya mengurus negerinya, malah lebih asyik hidup di daerah lain, sehingga amanahnya tersia-siakan. Jika para datuak komitmen dengan amanah yang dipercayakan kepada mereka, tentu perselisihan macam ini tidak akan terjadi.

2. Nikah satu suku dalam satu nagari dilarang, meskipun tidak ada ikatan mahram

Dalam adat Minangkabau, ada larangan khusus dalam pernikahan, yaitu orang yang satu suku (marga), memiliki datuak yang sama, berada dalam nagari (setara dengan kelurahan) yang sama, maka ia dilarang untuk menikah karena masih terhitung sebagai dunsanak.

Aturan ini tidaklah bertentangan dengan agama, karena melarang sesuatu yang didiamkan oleh agama boleh-boleh saja jika ditinjau ada manfaatnya. Yang tidak boleh itu adalah melarang sesuatu yang diwajibkan, seperti larangan berjilbab atau larang salat. Penjelasan larangan ini bisa dilihat di dalam buku-buku fikih, mengenai cakupan hak perintah dari uli'l amri.

Berikut analoginya :

Bukankah sekolah boleh melarang muridnya berrambut panjang, padahal dalam Islam, rambut panjang diperbolehkan. Bahkan, dalam satu riwayat, dikatakan bahwa rambut Rasulullah Saw panjangnya sampai ke bahu. Dalam aturan ini, pantaskah kita katakan kalau sekolah itu sekolah kafir karena melarang sesuatu yang diperbolehkan agama? Tentu tidak. Begitu pula dengan adat.

Contoh lainnya, pada umumnya, orang tua pasti akan melarang anak bujangnya yang berumur 20 tahun jika ingin menikahi janda berumur 45 tahun. Padahal hal in sah-sah saja dalam agama, bahkan dalam beberapa keadaan malah disunnahkan. Apakah jika orang tua melarang, kita katakan bahwa orang tua sudah kafir? Tidak!

Begitu pula dengan adat. Adat larang kaumnya untuk menikahi kerabat satu suku, karena melihat banyak manfaat. Bukankah kita lihat, salah satu bentuk fanatisme buta adalah tidak menikah dengan orang yang berbeda golongan?

Masih banyak manfaat dan mudarat yang bisa dijabarkan. Penjelasan lengkapnya, silakan cek di sini.

3. Wanita melamar laki-laki

Ini adalah tuduhan  yang lebih ngawur lagi. Dalam adat Minangkabau, yang melamar bukan wanita, melainkan keluarga si wanita. Mengapa? Karena memang begitulah seharusnya orang tua, berkeinginan kuat agar anak perempuannya mendapatkan jodoh yang terbaik. Bukankah Umar bin Khattab RA juga antusias mencarikan suami untuk anak beliau, Hafshah binti Umar?

Dan satu hal yang perlu diketahui, bahwa ternyata, dahulu Rasulullah Saw juga dilamar oleh wanita, yaitu Siti Khadijah RA, istri pertama Rasulullah Saw yang paling beliau cintai, yang tidak pernah beliau madu hingga beliau (Khadijah) meninggal. Untuk catatan, lamaran tersebut melalui perantara, tidak secara langsung.

4. Laki-laki tinggal di rumah istrinya setelah menikah

Dalam Islam, tidak ada aturan ketat dalam urusaan tempat tinggal. Sesorang boleh tinggal dimana saja, rumah diakah, rumah suaminyakah, rumah istrinyakah, ataupun rumah mertua.

Dalam adat Minangkabau, seorang lelaki setelah menikah harus tinggal di rumah mertua, meskipun tidak selamanya, karena banyak juga yang pindah setelah punya anak, karena rumah mertua tak lagi mencukupi. Jika kita jeli, kita dapat melihat manfaat luar biasa dari aturan ini.

Di awal rumah tangga, wanita yang belum terbiasa masak akan lebih intensif untuk belajar kembali dari ibunya. Keselamatan si wanita juga lebih terjaga, karena segala gerak-gerik suaminya diperhatikan. Tidak akan ada cerita KDRT, karena di rumah istri ada ayahnya, ada saudara laki-lakinya.

Menurut beberapa penelitian, permasalahan rumah tangga banyak muncul saat wanita tinggal di rumah si laki-laki, akibat ibu laki-laki yang tidak suka dengan istrinya. Bukankah sering kita dengar, bahwa hungungan istri dan ibu adalah hubungan yang rumit, dan kecemburuan antara keduanya adalah kecemburuan yang tidak bisa dijelaskan.

Dari sini, kita lihat, bahwa tidak ada pertentangan antara agama dan adat. Malah, jika dikaitkan dengan ilmu qawaid fiqhiyyah, maka boleh jadi hukum lelaki tinggal di rumah istrinya di awal pernikahan adalah sunnah.

Dan lagi, fakta yang tak bisa dibantah adalah, bahwa Rasulullah Saw juga diboyong ke rumah Siti Khadijah setelah beliau berdua resmi menikah. Dan perlu diketahui bahwa Rasulullah Saw merupakan teladan terbaik, baik sebelum maupun setelah kenabian. Bukankah teladan Rasulullah Saw dalam berdagang kita dapati sebelum beliau menjadi Nabi?

5. Nasab orang Minang diturunkan dari ibu

Ini adalah pernyataan yang didasari oleh logika yang tidak sehat. Memang, dalam adat Minangkabau, suku dan marga itu diturunkan oleh ibu. Jika ibu bersuku Pisang, maka anaknya juga pisang. Jika ibunya bersuku guci, maka anaknya bersuku guci pula.

Di sini kita harus bedakan, mana yang suku, mana yang nasab. Tidak ada istilah, bahwa di Minang nasab anak turun dari ibu. Tidak pernah sekalipun terdengan “Fulan bin Ibunya”. Yang ada hanyalah fulan bin ayahnya, seperti Fakhry Emil Habib bin Asra Faber.

Karena jika kita katakan bahwa nasab orang Minang diturunkan dari ibu, otomatis yang menikahkan anak perempuan nanti adalah ibunya, pun, yang wajib menafkahi anak-anaknya adalah ibu. Namun kenyataannya, dalam praktek tidak demikian. Setiap anak di Minangkabau tetap dinikahkan oleh ayahnya, pun kewajiban nafkah keluarga di Minangkabau tetap tanggungan seorang bapak, bukan ibu.

Polanya tetap begitu dan akan selalu sama, bahwa suku turun dari ibu, sedangkan nasab tetap turun dari ayah. Maka dari itu, tidak patut dikatakan bahwa dalam urusan nasab, Minangkabau menyalahi agama.

Mudah-mudahan penjelasan ini cukup untuk mengobati penasaran dunsanak yang ingin mengkaji lebih dalam tentang adat. Satu pesan kami, boleh jadi sesuatu itu terlihat bertentangan, namun setelah dikaji, ternyata malah akur dan berkesesuaian.

Lagi, jangan mudah menghukumi adat dan agama, sebelum kita berdalam-dalam mengkaji keduanya. Buya Hamka saja, yang kepakarannya diakui dunia, bahkan dari Universitas Al-Azhar mendapatkan gelar Honoris Causa, bangga karena begitu akurnya Islam dan Minang. Lalu siapa kita? Pahamkah kita adat? Sudahkah kita kuasai ilmu agama beserta cabang-cabangnya? :)

Wallahu a`lam. Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.. (^_^)

-----------------------
Referensi :
Adat Minangkabau :
- Sjafnir Aboe Nain Datuak Kando Marajo, 200th Tuanku Imam Bonjol, Suara Muhammadiyah, Pasaman, 1988
- Zamris Datuak Rajo Sigoto, Budaya Alam Minangkabau, Jasa Surya, Padang, 2011
- Bakri Bagindo Nan Sati, Adat Lamo Pusako Usang Sarato Pitaruah Mandeh, Pribadi, 2007
- Referensi lain penulis dapat dari bertanya langsung pada tokoh-tokoh adat di sekitar penulis, terutama Ayah, Drs. Asra Faber, M.A. Malin Mudo

Syariah Islam :
- Prof. Dr. Wahbah Azzuhaili, Mausu`atu'l Fiqhi'l Islami, Darul Fikri, Damaskus, 2012
- Tim Profesor Jurusan Fikih Kuliah Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Fiqhu'l Mawarits, Kairo, 2013
- Tim Profesor Jurusan FIkih Kuliah Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Al-Ahwalu's Syakhshiyyah, Kairo, 2013
- Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam, Al-Qawaidu'l Fiqhiyyah, Darul Hadits, Kairo, 2005
- Dr. Muhammad Syafii Antonio, Mec, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager, ProLM Centre & Tazkia Multimedia, 200
- Zainuddin Al-Malibari Al-Fannani As-Syafi'i, Fathu'l Mu'in, 987H
- Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi, Fathu'l Qaribi'l Mujib, Darul Bashair, Kairo, 2012 

*Beberapa referensi fikih berbahasa Arab merupakan kitab-kitab klasik, dan penulis mengambil rujukan kepada cetakan terbaru.

146 komentar:

  1. I love minangkabau... Saya Bangga terlahir sebagai keturunan minang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangga terlahir di dalam sistem yang menjadikan agama sebagai sandaran adatnya :)

      Hapus
    2. Saya rasa keterangan yg nomor 3 itu tidak semua daerah diminang kabau memakainya.... Seperti halnya di daerah solok.... Tetap pihak laki2 yang melamar pihak wanit....

      Hapus
    3. Saya rasa keterangan yg nomor 3 itu tidak semua daerah diminang kabau memakainya.... Seperti halnya di daerah solok.... Tetap pihak laki2 yang melamar pihak wanit....

      Hapus
    4. Khadijah r.ah. Melamar Rasulullah s.a.w.?

      Sebagian orang mengatakan salah pada jaman Nabi Muhammad s.a.w masih hidup pun wanita dibolehkan melamar pria diantaranya pada kisah Siti Khadijah r.ah istri pertama Rasulullah s.a.w. Baiklah kita kutipkan catatan sejarah yang saya ambil dari Kitab Kelengkapan Tarikh Moenawar Kholil mengenai peristiwa tersebut.

      Pada suatu hari Khadijah dengan terpaksa meminta seorang budak perempuannya yang sangat dipercaya bernama Nafisah binti Munabih untuk menemui Muhammad s.aw. dimana ia kemudian menyampaikan segala sesuatu yang menjadi isi hati Khadijah terhadap beliau. Setelah menerima uraian keinginan Khadijah, beliau s.a.w. hanya menjawab bahwa belum dapat mengambil keputusan sebelum mendapat pertimbangan dan keputusan dari pamannya. Kemudian pada suatu hari Nafisah menemui Abu Thalib untuk membicarakan persoalan itu dan Abu Thalib seketika memberikan keputusan menyetujui untuk disampaikan kepada Khadijah.

      Lalu pada hari yang lain Abu Thalib bersama anak kemenakannya (Muhammad s.a.w.) pergi menemui pamannya Khadijah bernama Amr bin Al-Asad karena ayah Khadijah saat itu telah wafat. Kedatangan Abu Thalib adalah untuk memperbincangkan keinginan Khadijah terhadap pribadi Nabi. Oleh Amer bin Al-Asad diterima dengan baik dan ia tidak keberatan dengan perjodohan antara Khadijah dengan Muhammad, asalkan kedua belah pihak sama-sama cinta. Dan telah terpandang di kalangan kota Mekah bahwa keduanya telah bertemu (sepadan) kebangsawanannya. (Kelengkapan Tarikh Juz 1 Hal 104)

      Dari uraian sejarah di atas dapat kita tangkap bahwa kedatangan Nafisah binti Munabih mengutarakan keinginan Khadijah bisa saja dianggap sebagai melamar / meminang Nabi Muhammad s.a.w. (waktu itu belum menjadi Nabi). Namun secara adat dan kelaziman pria lah yang melamar wanita. Oleh karena nya proses lamaran ini diperkuat lagi atau secara resmi dilakukan oleh Abu Thalib kepada paman Khadijah bernama Amr bin Asad. Maka inilah lamaran yang lebih resmi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara resminya, tetap pihak Keluarga Nabi Muhammad s.a.w. lah yang datang melamar Khadijah r.ah.

      Hapus
    5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. I Love Batak. Batak+Minang= Bersaudara.
    Perang Paderi adalah sebuah perubahan yang tidak terelakkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang di sanalah cikal bakal revolusi perombakan adat menjadi berkesesuaian dengan agama. :) salam dari perantau Minang, saudara

      Hapus
    2. Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kembali ke Mekkah dari perjalanan dagangnya ke Syam, Khadijah Radhiallahu’anha melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat amanah dalam mengelola dagangannya dan ia juga melihat keberkahan besar dalam daganganya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Selain itu, budak lelaki Khadijah yang bernama Maisarah, juga mengabarkan kepadanya mengenai pembawaan Rasulullah yang lembut, sifat-sifat beliau yang mulia, ketajaman berpikir, perkataan yang jujur, metode beliau yang amanah.

      Maka Khadijah pun seakan menemukan sosok pria yang didambakannya selama ini. Padahal banyak sekali para tokoh dan pembesar kaum yang berusaha untuk menikahinya, namun Khadijah menolak semuanya. Lalu Khadijah pun mencurahkan perasaannya tersebut kepada sahabatnya yang bernama Nafisah binti Muniyyah, dan Nafisah pun segera pergi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membeberkan niatan Khadijah tersebut dan menganjurkan Rasulullah untuk menikahinya. Beliau pun menyetujuinya dan membicarakan hal ini dengan paman-paman beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendatangi paman Khadijah dan melamar Khadijah. Tidak lama setelah itu, pernikahan pun dilangsungkan. Akad pernikahan ini dihadiri oleh para keluarga dari kalangan Bani Hasyim dan para pembesar kabilah Mudhar. Dalam pernikahan ini, Rasulullah memberikan mahar berupa 20 ekor unta muda. Pernikahan ini terjadi setelah dua bulan Rasulullah kembali dari Syam.



      Sumber: http://muslim.or.id/18781-pernikahan-rasulullah-dengan-khadijah-radhiallahuanha.html

      Hapus
    3. Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kembali ke Mekkah dari perjalanan dagangnya ke Syam, Khadijah Radhiallahu’anha melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat amanah dalam mengelola dagangannya dan ia juga melihat keberkahan besar dalam daganganya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Selain itu, budak lelaki Khadijah yang bernama Maisarah, juga mengabarkan kepadanya mengenai pembawaan Rasulullah yang lembut, sifat-sifat beliau yang mulia, ketajaman berpikir, perkataan yang jujur, metode beliau yang amanah.

      Maka Khadijah pun seakan menemukan sosok pria yang didambakannya selama ini. Padahal banyak sekali para tokoh dan pembesar kaum yang berusaha untuk menikahinya, namun Khadijah menolak semuanya. Lalu Khadijah pun mencurahkan perasaannya tersebut kepada sahabatnya yang bernama Nafisah binti Muniyyah, dan Nafisah pun segera pergi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membeberkan niatan Khadijah tersebut dan menganjurkan Rasulullah untuk menikahinya. Beliau pun menyetujuinya dan membicarakan hal ini dengan paman-paman beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendatangi paman Khadijah dan melamar Khadijah. Tidak lama setelah itu, pernikahan pun dilangsungkan. Akad pernikahan ini dihadiri oleh para keluarga dari kalangan Bani Hasyim dan para pembesar kabilah Mudhar. Dalam pernikahan ini, Rasulullah memberikan mahar berupa 20 ekor unta muda. Pernikahan ini terjadi setelah dua bulan Rasulullah kembali dari Syam.



      Sumber: http://muslim.or.id/18781-pernikahan-rasulullah-dengan-khadijah-radhiallahuanha.html

      Hapus
  3. betull sangat setuju dengan penjelasan penulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih banyak. mudah2mudahan bermanfaat. :)

      Hapus
  4. betull sangat setuju dengan penjelasan penulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung. semoga bermanfaat :)

      Hapus
  5. Mohon dijelaskan juga mengenai tidak bolehnya "melangkahi" uni dalam hal pernikahan... terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. melangkahi uni dalam pernikahan sebenarnya bukanlah tidak boleh, namun tidak 'pas'. karena logika mana pun akan sepakat, bahwa seharusnya yang lebih tualah yang lebih dahulu menikah.
      namun terkadang, jodoh si adik datang lebih dahulu, dan jika adik menikah dahulu, boleh jadi si kakak menjadi sedih. ini sangat wajar.
      makanya, dalam adat, jika adik menikah lebih dahulu dari kakaknya, si adik memberi hadiah berupa baju "sapatagak", dari baju luar sampai dalam, atas sampai bawah, lengkap.
      mungkin di daerah lain ada perbedaan.

      intinya adalah meminta kerelaan kakak karena dilangkahi. :)

      Hapus
  6. Gaya bahasanya asyik gak ribet and gak menggurui.mudah dicerna and dipahami.Subhanallah makin bangga sama tanah leluhur.sangat setuju banyak anak minang yg bahasa minangnya kurang baik(gagap).marantau chino kecek urang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, maka dari itu, sudah seharusnya dari kecil, anak-anak diajari bahasa ibu, bahasa asli, bukan bahasa indomi :v

      terima kasih sudah berkunjung, mudah-mudahan bermanfaat. :)

      Hapus
  7. Saya harry wu dr etnis tiongha,saya senang dan bangga bs mengenal adat minangkabau ini,sya sangat ska mempelajarinya dri teman2 saya..tp kdang saya jg sedih dan prihatin,byk anak2 muda minang skrg ngak tau lg dgn adat minang nya,mari kta bersama2 menegakan adat kita biar lestari dan terjaga mpe ke dpn nya,saya jg ttp menjaga vadat dan budaya cina mpe skrg..maaf saudara2 ku kl sya ada salah berkata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah. tapi mungkin kita sedikit berbeda, saudara. mungkin bagi saudara, segala budaya patut dilestarikan.

      sedangkan bagi saya, adat yang dipertahankan itu adalah adat yang tidak dilarang oleh agama saya. sedangkan adat yang sumbang, seperti baju kebaya (ketat dan berdasar tembus pandang), jaipongan (tari-tari semi-erotis dengan gerakan pinggul) , dll, itu tetap harus ditiadakan.

      salah satu bait Badindin berbunyi :
      Ambiak nan elok, jadi pusako
      Sado nan buruak, onde, kito pelokan


      dalam adat Minang, mungkin hal yang masih bertentangan dengan agama adalah perihal tari-tarian yang dibawakan wanita. insyaAllah ini yang akan jadi objek sterilisasi.

      mohon doa.

      terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat :)

      Hapus
    2. Khusus tarian-tarian di Minangkabau itu sesungguhnya sudah ada pakemnya/ketentuannya. Sama dengan tari-tarian malayu deli, pakaian nya harus berbaju longgar dan dalam sampai kelutut. Ketika menggoyangkan tangan, tangan tak boleh diangkat melebihi datarnya bahu.
      Jadi sebelum kita tahu yang sebanarnya dasar adat kita itu, lebih baik dipelajari secara komprehensif agar kita tak asal menyalahkan.
      Yang terjadi sekarang, jalan alah dialiah urang lalu, cipak dipapek rang panggaleh. Kuncinya, kita kembali ke tempat yang sesungguhnya yakni Minangkabau itu sendiri. Bukan Sumatera Barat yang diagung-agungkan orang sekuler itu.

      Hapus
  8. artikel yang sangat mencerahkan....
    agama dan budaya
    islam dan minangkabau pasti sesuai...
    jika arab dan minangkabau tidak akan sesuai, karna arab dan minangkabau sama2 suku/budaya....

    ambil islamnya saja, bukan budaya arabnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung. mudah-mudahan bermanfaat :)

      Hapus
  9. Assalamu'alaikum
    Ambo nio batanyo ka uda Fakhry Emil Habib masalah tradisi yasinan urang maningga nan ado disebagian besar daerah kito, mohon penjelasannyo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yasinan ko adolah permasalahan nan ndak abih-abih wak bahas doh da. tapi indak baa lah, ambo cubo mambahas sacaro ringkas.

      1. Bahwa mendatangi rumah orang yang meninggal/ takziyah merupakan sunnah Nabi Saw, untuk menghibur orang yang berduka. ini sunnah.
      2. Bahwa membaca Alquran sunnah, bahkan wajib sekali seumur hidup.
      3. Bahwa mendoakan orang yang meninggal itu adalah perbuatan sunnah, bahkan wajib bagi anak.

      Dalam pandangan kami, yasinan tidak terlepas dari tiga hal tadi. pertama membaca quran, kedua menghibur rumah duka, ketiga mendoakan mayat. tiga amal sunnah digabungkan menjadi satu. luar biasa.

      Namun, mengenai apakah pahala yasin sampai kepada mayat atau tidak, ini yang perlu dikaji. tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang membaca quran mendapat pahala. maka saat membaca yasin, niatkan seperti ini "Ya Allah sampaikan pula pahala sebesar yang saya dapat kepada si mayat,"

      Kalau boleh jujur, di daerah saya tidak ada tradisi yasinan. jika ada yang meninggal, maka tetangga, kerabat dan kawan-kawan akan "manjanguak", membawa beras, kemudian duduk bercerita ihwal keadaan orang yang ditinggalkan. wallahu a'lam. mudah-mudahan bermanfaat. :)

      Hapus
  10. bangga nyo awak jadi urang minang, terimakasih ilmunya :))

    BalasHapus
  11. Sangat setuju,, semoga bermanfaat ilmu nya.
    Tarimo kasih uda Fahkry..

    BalasHapus
  12. analisa saya yang kurang ilmu ini masalah suku..di runtun ke atas maka Rasullulah saw adalah keturunan ibrani..bagaimana bisa menjadi bersuku arab..karena nabi Ismail menikah dengan orang arab..maka lahirlah keturunan sampai ke Rasullullah saw..jadi bahasa ibu menjadi kan mereka bersuku ibu..itu analisa yang lemah ini

    BalasHapus
  13. *Isma'il* (bahasa Arab
    : إسماعيل) (sekitar 1911
    -1779
     SM) adalah seorangnabi
     dalam kepercayaan agama
     Islam
    . Isma'il adalah putera dari Ibrahim
     danHajar
    , kakak tiri dari Ishaq
    . Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1850
     SM. Ia tinggal di Amaliq dan berdakwah untuk penduduk Al-Amaliq, bani Jurhum dan Qabilah Yaman
    . Namanya disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Quran
    . Ia meninggal pada tahun 1779 SM di Mekkah.
    Secara tradisional ia dianggap sebagai "Bapak Bangsa Arab", sedangkan menurut Sa'id bin Yahya al Umawiy dalam kitabnya "al Maghazi" menuliskan bahwa Isma'il belajar bahasa Arab dari bangsa Arab yang singgah di Makkah dari kalangan dimana ia diutus sebagai nabi. Maka bisa diambil kesimpulan bahwa Isma'il bukanlah nenek moyang bangsa Arab.

    saya kutip dari wiki pedia

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum uda fakhri.. Setahu saya, keluarga calon mempelai wanita yang melamar calon mempelai laki laki itu hanya ada di daerah Pariaman. Di daerah saya, Kabupaten Solok, jika ingin menikah keluarga calon mempelai laki laki lah yg datang melamar ke keluarga calon mempelai wanita. Jadi utk poin yg satu itu tidak di generalisir utk seluruh wilayah di minangkabau.
    Correct me if I wrong..
    Saya juga orang minang yg bangga dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah nya :)
    Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alaikumsalam warahmatullah. Memang, dalam prakteknya mungkin sedikit berbeda. Namun, dalam 6 tahap pernikahan dalam Minangkabau, memang keluarga wanita yang datang terlebih dahulu, karena lelaki nanti akan tinggal di rumah wanita. otomatis, keluarga perempuan tentu tidak ingin lelaki tidak jelas tinggal di rumah mereka. Untuk daerah pariaman, perbedaannya adalah adanya "biaya" jemputan.. :)

      Berikut penulis berikan proses pernikahan dalam adat :
      1. Manapiak Bandua
      2. Maminang
      3. Batimbang Tando jo bainai
      4. Manikahan
      5. Manjapuik Marapulai
      6. Mampasandiangan marapulai jo anak daro
      7. Manjalang Mintuo

      Saat ini, proses pernikahan seperti ini sudah banyak ditinggalkan, dan hanya dipersempit menjadi 3 proses saja. Lamar, nikah, sudah :D *sangat disayangkan

      Hapus
    2. Tempat kami pariaman masih menerapkan 7 sistem itu

      Hapus
    3. Apa maksud sebenar nya dari adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah itu?

      Hapus
    4. Apa maksud sebenar nya dari adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah itu?

      Hapus
  15. sangat bermamfaat...

    semoga jadi amal kebaikan bagi saudara Fakhry

    BalasHapus
  16. saya senang membaca blog ini.. cuman besok-besok klo ada yang ngajak debat tolong didiamkan saja. tapi kalo ada yang bertanya silahkan jawab sepueh2nyo..
    salam adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah, ke depan saya akan lebih bisa mengontrol diri pak. Terima kasih banyak.. :)

      Salam Syarak nan qawi, adat nan lazim pak..

      Hapus
  17. Alhamdulillah, sebagai putra Minang asli, kelima poin dalam artikel ini telah 'clear' dan tertanam di pikiran saya sejak lama. Dari seluruh poin, pengetahuan saya tentang adat sangat sesuai dengan apa yang disampaikan oleh penulis.

    Bahkan, untuk poin 1 yang paling kontroversial pun, saya sempat berdebat hebat dengan bapak saya sendiri, khususnya mengenai pembagian warisan "harato pancarian" (harta pencarian pribadi) :p

    Artikelnya bagus! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih banyak da. mudah2an bermanfaat. :)

      Hapus
  18. Assalamu'alaikum WrWb Uda Emil Candiak Pandai Ranah Minang nan kito punyo

    Salam Kenal dari Hendra Libur (fb: Tuanku Mudo Lieboer)
    Sapinteh td ambo mambaco komentar dunsanak kito tentang Yasinan...mgkin itu Hal Sunah...
    Nan sampai kini tabasik di hati ambo ttg TRADISI NAN MAMBABANI AHLUL BAIT DI RANAH MINANG yaitu: Tradisi ma7 hari 40hari 100hari ko Da...Ado Ustad di Padang yg PALIANG ANTI juo tabiat tradisi ko mgkin Uda pernah Kenal H.Hasan Basri (Perawakannyo Tinggi Gadang Hitam mode Arab) & Tamasuak juo ka Golongan Ulamo jo Cadiak Pandai juo Baliau tu....Tolong lah tarangkan dek Uda...Tradisi sampai MALAMANG...kadang ndak bapitih bahutangi...kan manyeso namonyo tu Da..
    Tolong lah Uda Pajaleh di Ruang Diskusi ko saketek..karano Tradisi banyak MUDARATnyo Ambo Caliaak...Mohon PENEGASANNYO dari Uda Emil.
    Wassalam.
    Tuanku Mudo Lieboer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh.
      iyo tuanku. di babarapo tampek memang lai kegiatan bantuak itu, maagiah makan untuak urang nan takziah. sarupo nan ambo kecekan, di tampek ambo, urang nan takziah tu aia antah lai dibuekan antah indak. nan jaleh, nan tibo tu kok indak mambaok pitih, kok indak mambaok bareh.

      Masalah maagiah jamuan makan, pas bana lo karano Syaikh Salim Al-Khathib, salah satu guru ambo, mambahas iko lo ari rabaa patang. kecek liau, imam 4 mazhab sepakat kalau hal iko indak buliah, kecuali dalam 2 hal :

      1. Katiko mayik sabalum maningga lah baniat untuak basidakah. diwasiatkan ka ahli warisno untuak maagiah jamuan makan ka urang nan hadir untuak badoa.
      2. katiko keadaan memang manuntuik. misal, nan maningga ko punyo banyak anak. datang lah anak2 liau dari jauah, sahinggo harus lalok di kampuang. iko wajib untuak diagiah makan, karano memang selain kerabat, nan datang ko taetong musafir lo kan.

      wallahu a'lam.

      manuruik ambo, manjanguak tu nan harus dihibur tu adolah urang nan kamalangan, jadi awak nan tibo nan harus mambaok, ndak awak lo nan diagiah doh.

      Hapus
    2. Minta izin utk manambah uraian, da Fakhry.
      Mengenai perjamuan makan-minum di rumah ahli bait, ada beberapa aspek yg harus dipertimbangkan antara lain;
      Menurut pendapat saya, perjamuan itu boleh-boleh saja sepanjang tidak membebani ahlilbait hingga harus berhutang pula untk membiayainya.
      Sumber dana utk membiayai perjamuan tsb harus menjadi perhatian utama kita. Jgn sampai sumber dananya diambil dari harta warisan si mayit yg menjadi hak bagi anak yg ditinggalkannya. Jika si anak tidak tahu atau tidak rela, bisa-bisa perjamuan itu menjadi haram karena memakan harta anak yatim.
      Untk itulah disaat takziah, kaum kerabat dan tetangga membawa buah tangan berupa beras, telur dan lainnya. Agar ahlilbait bisa terbantu dalam perihal kebutuhan makannya dan keluarganya.
      Semoga bermanfaat. Trims

      Hapus
    3. terimakasih banyak komentanya da. tapi kalau boleh saya memberi saran, urusan agam ini bahaya da. tidak bisa kita katakan, "menurut saya". hasil ijtihad harus disandarkan kepada mujtahid, dan syarat untuk menjadi mujtahid itu mutlak."
      makanya di atas saya sandarkan pendapat tsb kepada imam yang 4, karena mereka adalah ulama mujtahid yang diakui oleh seluruh umat islam yang jernih pikirannya.
      wallahu a'lam.

      Hapus
  19. informasi yang sangat berguna bagi kami yg sudah lama diperantauan. terimakasih dan terus berkarya..

    BalasHapus
  20. Keliru hamka mengakurkan islam dg adat minangkabau, hamka lebih cenderung lebih memihak ke islam. Banyak sastra hamka yang mengkritik adat minangkabau, pun hamka juga mengakui kalau beliau lebih memilih mendidik anaknya dari pada mendirikan rumah gadang, padahal hamka datuk yang seharusnya bertanggung jawab terhadap adatnya, dan pada akhirnya hamka meninggalkan dan membiarkan adatnya itu hilang dan tidak memakainya lagi. Hamka sangat menentang adat minangkabau, hanya saja beliau tidak memilih jalan padri, beliau lebih memilih jalan damai dengan mengkritik lewat tulisan-tulisannya, menurut saya coba deh baca lagi pak, apa benar adat minangkabau dan islam itu sejalan? Apa benar adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah itu ada di minangkabau?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. lain kali berikan sumber valid pak. itu hanya anggapan bapak. coba apa judul sastra Buya yang menentang adat? kemudian mengapa beliau harus mendirikan rumah gadang jika rumah itu ada? lagi pula jika beliau menentang adat, tentu sedari awal beliau sudah tolak gelar penghulu yang dilekatkan kepada beliau. :)

      Buya Hamka dalam ceramah beliau di lapangan gubernur padang pernah menyebutkan bahwa, sudah banyak negeri yang ia kunjungi tetapi tidak ada yang seperti minangkabau akurnya dengan Islam. dikutip dari buku Bakri Bagindo Nan Sati, Adat Lamo Pusako Usang Sarato Pitaruah Mandeh, Pribadi, 2007

      Hapus
    2. Kritik para sastrawan minang terhadap adat dan cara penerapannya di ranah minang melalui tulisan sastranya memang benar adanya. Tapi, kritik itu bersifat membangun dengan cara yg sopan dan beradab sebagai ungkapan tanda cintanya. Itu bukanlah suatu kekeliruan, tetapi merupakan proses penyempurnaan menyatunya adat minang dengan ajaran Islam.
      Ini merupakan semangat masyarakat minang yg dicantumkan dalam Piagam Marapalam. Bagi saudara yg bukan suku minang mungkin akan sulit utk memahaminya, tapi tolong jgn menyimpulkan sesuatu yg anda tidak begitu memahaminya. Trims

      Hapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. Sangat brrmanfaat..
    Mhon ijin berbagi da...

    BalasHapus
  23. Tarimo kasih buat penulis labiah jaleh keterangan..
    Tajawek sudah keraguan jo prasangka urang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah-mudahan yo bisa manjawek kok lai kawan uda nan ragu bagai :)

      Hapus
  24. Ambo nio share saketek pak tambahan tentang baa kok urang minang ko dak buliah manikah sa suku.
    Ambo sadar kalau inyiak - inyak wak dahulu sabananyo lah labiah cadiak dari awak nan iduik di zaman kini.
    Ambo pernah baraja tentang genetika, dalam genetika ko semakin dakek gen sesorang itu beresiko untuak melahirkan anak yang kemungkinan IQ nyo randah dan kemungkinan buruak nyo anak ko cacat.
    Jadi agamo islam malarang nikah nan jo keluarga ayah, sadangkan adat malarang untuak manikah jo keluarga ibu, dek sabab nan duo tadi, gen dari pasangan tu alah lumayan jauah. sahinggo keturunan yang cacat atau IQ randah bisa di minimalisir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. suai jo kato Umar bin Khatthab da, makin jauah nasab, makin ancak :)

      Hapus
  25. Minang selalu di hati...bangga awak jd urg minang ko

    BalasHapus
  26. Terimakasih akhi Frakhry Emil Habib yg telah berbagi ilmu yg sangat bermamfaat bagi kami yang msih dangka ilmu tentang adat kito minangkabau...di tunggu karya berikutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah da. mohon doa. barakallahu fiikum :)

      Hapus
  27. Assalamualaikum... saudaraku. Moga bermanfaat bagi kita dan dapat memahaminya. Apa itu Adat dan Syarak dalam kehidupan kita. Terutama kita yang merasa darah Minang. Bukan orang minang yang hanya mengaku begitu saja. Sementara keseharian dalam memahami dan menjalankan marwah yang udah turun temurun dari Nenek Moyang kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan kita bisa selalu mempraktekkan aaran Islam bagi diri terutama, dan keluarga kita pak :)

      Hapus
  28. Tarimo kasih sodara ku . Sangat bermanfaat ...

    BalasHapus
  29. Mantap uda (y)
    Pencerahan yang sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. tarimo kasih, mudah2an bamanfaat :)

      Hapus
  30. Lagi pendekatan sama wanita padang jd harus baca ini 😇 makasih blok nya uda

    BalasHapus
  31. Uda Fakhry awak nio tanyo ciek lu:
    Aturan siapo sajo yang dilarang untuk dinikahi ado dalam surat Annisa ayat 23, nan indak ado disitu Halal untuk di nikahi. Nah...dari pernyataan nomor duo di atas "Melarang sesuatu yang didiamkan oleh agama boleh-boleh saja jika ditinjau ada manfaatnya" apakah pernyataan ini ada dalil yang kuat ?
    Sebab yang saya pernah dengar di Al-Qur'an (kalau indak salah, sebab awak lupo) : "Jangan kamu Haramkan apa yang telah Saya Halalkan"

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, memang kita tidak boleh mengharamkan apa yang Allah halalkan, akan tetapi melarang sesuatu yang Allah bolehkan karena maslahat yang lebih baik itu boleh2 saja, karena melarang bukan berarti mengharamkan. dokter boleh saja melarang pasien memakan makanan tertentu yang sebenarnya halal, presiden boleh saja melarang hal terntentu yang halal, adat pun seperti itu. wallahu a'lam. barakallah fiik :)

      Hapus
  32. assalammualaikum da. mokasi utk artikel nyo sblumnyo da. awk nio batanyo ciek da. diadat minang wak ko kan ndk blh menikah sasuku. tapi ado jo yg mngecek blh mnikah sasuku asalkan beda kampuang, nagari jo datuaknyo. misal yg padusi chaniago dari tanah datar, lakilaki chaniago dari pasisia. baa aturan yg sabananyo tu da ? dibuliahan apo indak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikumsalam warahmatullah. setahu ambo, nan manjadi patokan bukan suku, tetapi panghulu. katiko datuak jo panghulu lah babeda, barati buliah manikah. banyak contoh nan ambo tamui nan manikah sasuku tapi beda panghulu. wallahu a'lam.

      barakallahu fiik :)

      Hapus
  33. “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu
    nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An
    Nisaa : 4

    “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau
    senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia
    (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima
    (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan
    kerusakan yang luas” ( H.R. At-Turmidzi)

    “Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu
    menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih
    terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara”
    (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

    “Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang
    mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu
    sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud

    “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau
    akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan
    akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu
    dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita
    karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya,
    Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan
    memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita
    karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan
    kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya
    karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya
    atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah
    senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan
    itu padanya” (HR. Thabrani)

    BalasHapus
  34. untuk pernikahan semarga ini dalilnya:
    "Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87)

    BalasHapus
  35. pernikahan yg dilarang dalam Islam :
    http://almanhaj.or.id/content/3233/slash/0/pernikahan-yang-dilarang-dalam-syariat-islam/

    BalasHapus
  36. firman Allah Ta’ala:

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

    “Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa' : 23]

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua dalil bapak bagus, mantap, tapi pemahaman terhadap dalil sepertinya perlu diperdalam lagi. atau coba bertanya kepada ulama yang muktabar agar pemahamannya bisa pas. serahkan sebuah urusan kepada ahlinya. barakallahu fiik. :)

      Hapus
  37. berapa pembagian warisan untuk anak laki laki dan anak perempuan,, apa kah mengikuti hukum islam,,, 2 bagian untuk laki2 atau bagi samo rato???

    BalasHapus
    Balasan
    1. sesuai faraidh da. setiap laki-laki dan perempuan yang setara bagiannya 2:1

      barakallahu fiik :)

      Hapus
  38. assalamualiakum wr.wb

    saya bangga menjadi orang minang walua besar dan hidup di rantau otang lain dan jarang kembali ke kampung halaman mungkin sudah hampir 15 tahun,. saya sangat mencintai Nagari saya tapi menurut saya adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabulloh msh byk dan yang harus diperbaiki dan jika benar : Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Adat manurun, syarak mandaki. Adat nan kawi, syarak nan lazim. Syarak mangato, adat mamakai. Tuhan basifat qadim, manusia basifat khilaf.”. dijalankan maka jika ketentuan adat yang salah jgn kita gunakan, yang bertentangan dengan hukum islam, jelas hukum waris adat minang sangat bertentangan dengan hukum islam dan sampai kapan adat yang masih salah itu kita pakai....?????? mari lah dusanak kasadonyo kita buka mata bahwa adat kita memeng ada yang salah dalam garis waris dan itu kita harus perbaiki kalau bukan kita siapa lagi yang peduli akan negeri kita... jika kita cinta akan minang jangan kita hanya diam sya harap fahry emil habib bisa menegakkan benang basah yang selama ini menjadi pokok masalah di adat kita... terima kasih i love minang
    wassalamualikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mestinya uda pahami dulu bagaimana aturan faraid dalam Islam, dan bagaimana aturan harato dalam adat Minang sebelum mengklaim. serahkan ssaja urusan kepada ahlinya. jika memang tidak sesuai dengan uda, ya silakan pakai sistem yang uda yakini terhadap harta yang uda punya :)

      barakallahu fiik :)

      Hapus
  39. Assalamyalaykum,

    Sekedar share akhiy mengenai sudut pandang wanita dan lelaki menurut adat Islam (Al-Quran & As-sunnah).

    http://rumaysho.com/947-pemimpin-wanita-menurut-kaca-mata-islam.html

    Salam

    BalasHapus
  40. mohon infonya saudaraku,apa benardi adat minang wanita yang memberi mahar kepada laki - laki,karna adikperempuan saya di minta bayar mahar untuk menikah dengan laki - laki minang,mohon infonya ya
    maaf sebelumnya

    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan mahar uda, tetapi istilahnya jamputan. silakan bapak tanya kepada kawan2 dari pariaman, karena saya juga tidak begitu paham adat pariaman. tetapi intinya, mahar tetap dari laki2, dan jamputan itu hanya syarat lamaran saja, bukan pernikahan.

      wallahu a'lam. barakallahu fiik.

      Hapus
  41. Alhamdulillah...Tarimo kasih Bung Fakhry Emil Habib karano tulisan nan ko ambo lah bisa manarangkan saketek manganai Adaik Minangkabau ka urang rumah jo anak2. Sabab induak bareh ambo urang subarang.Samoga tulisan2 Bung Fakhry nan ka datang ditunggu dek kawan2. Amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. yo mudah2an awak sadono dapek manfaat da. barakallah fiik, :)

      Hapus
  42. asalam, alhamdulillah setuju banget, kita harus bangga sebagai orang minang. oleh karenanya, urang2 rantau ajarilah anak2 kita bahasa minang :D
    tpi ado nan lucu.. di kota sawah lunto, anak2 di sinan malah asik ngobrol dgn bahasa indonesia dan sedikit dicampur bahasa awak.. hehe baa ko, di ranah minang malah jauh dr budaya awak hehe :D
    nah kini masalah "serius"
    kalo menurut syarak dan kitabullah, seharusnya suku itu turun dari Ayah dan bukan ibu. dri maa buktinyo? caliaklah di quran bilo nabi musa as. menyeru ka kaumnyo (bani israil),pasti beliau menggunakan kato2 "ya kaum ku.." bukan dgn kata2 yg lain.. kenapa kerana ayahnya nabi musa adalah orang bani israil.
    berbeda dgn nabi isa as. setiap beliau memanggil kaumnya, selalu menggunakan kata2,"ya bani israil.." knapa? karena ayahnya nabi isa tidak ada. bukan dari bani israil, hanya ibunya saja yg merupakan bani israil.
    disiko jaleh bana bahwa suku bangsa itu manurun berdasarkan dari ayah, dan bukan ibu. Wallahu A'lam Bishawab

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam, yo ka dipangan lih da, ni, namono bahaso kampuang, tu nan urang maraso kampungan lo mamakaino. padohal itu pusaKO, tapi malah dipunahan.

      masalah suku dan budaya tantu dibaliakan ka masiang2 da-ni, ndak bisa lo awak samoan bani israil jo minang doh. arab ndk lo bisa disamoan sadono. kok disamoan, beko minang dapek laknat lo bantuak bani israil da. wallahu a'lam.

      barakallahu fiik :)

      Hapus
  43. ASALAMUALAIKUM WARAH MATULLAHI WABARAKATUH ambo handak batanhyo ciek.tantang urang laki laki/urang sumando yg tingga di rumah mintuo.kalau tingga untuak samantaro/untuak mandidik supayo istri bisa mamasak itu dah lumrah/biaso.tapi kalau silaki laki dah berbuat sasuko atinyo marubah atau madirikan bagunan tampa ado muysawarah keluarga laki laki(mamak) dari istri apokah laki lakiko bisa disabuik urang minang???????

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikumsalam warahmatullah. yo tu makono urang generasi mudo minang harus diagiah tau hak-hak sumando di tanah mintuo da. masalah di awak kini kan buliah jadi sumando ko indak tau, karano datuak nan ka maajaan masaalah adat ko sibuk marantau sadono.

      tapi kok sumando ko tau dan mangarengkang, ambuih miang lai da. kan abu di ateh tunggua tu.. :)

      barakallahu fiik

      Hapus
  44. Ambo bangga menjadi urang sumando Piaman, terimah kasih atas penuturanya. Sekarang manjadi jalej sdaonyo ambo bisa menarangkan ke urang luar Minang Kabau

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah-mudahan bamanfaat da. barakallahu fiik :)

      Hapus
  45. Ambo bangga menjadi urang sumando Piaman, terimah kasih atas penuturanya. Sekarang manjadi jalej sdaonyo ambo bisa menarangkan ke urang luar Minang Kabau

    BalasHapus
  46. mantap. makin bangga jd uranh awak :)

    BalasHapus
  47. Untuk melestarikan dan managgakkan maruah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah, para orang tua kita di Ranah dan di Rantau berinisiatif untuk merubah Prop.Sumatera Barat menjadi Prop.Daerah Istimewa Minangkabau (Prop.DIM). Dgn keistimewaan yg kita miliki kita akan bebas mengatur rumahtangga kita ke dalam. Kedaulatan keluar,DIM tetap sebagai bagian dari NKRI. Nah, keistimewaan itu akan kita gunakan untuk menerapkan ABS-SBK, SM-AM. Keistimewaan itu akan kita gunakan untuk menerapkan sistim pendidikan terintegrasi dgn pendidikan Agama da Adat (pendidikan surau), Keistimewaan itu kita gunakan untuk menyelamatkan dan melindungi Tanah Ulayat kita.
    Mari kita semua orang Minangkabau dukung prakarsa pembentukan Prop.DIM ini demi kemaslahatan anak cucu kita nanti.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah-mudahan jika nanti terwujud, bukan hanya nama saja pak. mudah2an sudah ada rancangan rinci bagaimana penegakan adat, terutama otoritas datuak dan tapi tigo sapilin di tiap nagari. barakallahu fiik :)

      Hapus
  48. Untuk melestarikan dan managgakkan maruah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah, para orang tua kita di Ranah dan di Rantau berinisiatif untuk merubah Prop.Sumatera Barat menjadi Prop.Daerah Istimewa Minangkabau (Prop.DIM). Dgn keistimewaan yg kita miliki kita akan bebas mengatur rumahtangga kita ke dalam. Kedaulatan keluar,DIM tetap sebagai bagian dari NKRI. Nah, keistimewaan itu akan kita gunakan untuk menerapkan ABS-SBK, SM-AM. Keistimewaan itu akan kita gunakan untuk menerapkan sistim pendidikan terintegrasi dgn pendidikan Agama da Adat (pendidikan surau), Keistimewaan itu kita gunakan untuk menyelamatkan dan melindungi Tanah Ulayat kita.
    Mari kita semua orang Minangkabau dukung prakarsa pembentukan Prop.DIM ini demi kemaslahatan anak cucu kita nanti.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. satuju! asalkan sasuai jo ABS-SBK

      Hapus
  49. assalamu'alaikum wr wb...
    MOHON SEDIKIT PENJELASAN PAK ADMIN "...Karena harato pusako tinggi dan harato pusako randah pada dasarnya adalah milik kaum, maka saat si pengelola meninggal, dua harta ini tidak diwariskan kepada ahli warisnya, melainkan dikembalikan kepada kaum, kemudian pimpinan adat (Niniak Mamak) akan memutuskan bagaimana nasib tanah ini kemudian.."

    mungkin saya belum melihat lebih jauh, itu menjadi kekurangan saya.. yg saya lihat di kondisi nyatanya, memang harato pusako kaum akan kembali ke kaum.. tetapi saat diwarisi atau diteruskan kembali, kenapa hanya kaum hawa saja yg bisa mengelolanya.. bahkan disitu terkadang istilah itu muncul hanya wanita yang dapat warisan secara kasat mata... kecuali setelah kembali ke kaum dan di berikan kembali hak pengelolaannya kepada kaum hawa, kemudian saya juga mendengar ada istilah hibah didalam adat tsb, barulah kaum adam bisa mengelola tanah kaum tsb.. mohon petunjuknya bapa admin tang terhormat.. :) maklum masih belajar adat.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pusako tentu kembali ke kaum. karena itu bukan miliki orang tuo awak tapu milik kaum yg dipinjamkan ke rang gaek awak.
      berbeda jo harta warisan, maka turunnya sasuai jo hukum agamo. karena itu bukan milik kaum tpi milik rang gaek awak.
      oleh karenanyo saat awak mengelola harto pusako, sebaiknya hasilnya awak balian ka nan lain (rumah, tanah dll)supayo nan ka lain itu bisa diwariskan ka anak awak. Wallahu A'lam Bishawab

      Hapus
    2. wanita mengelola karena mereka tinggal di kampung, sedangkan laki-laki tinggal di rumah mintuo, dan yang ia kelola nanti adalah tanah kaum istrinya da. adil-adil saja. oh iya, uncu saya masih mengelola tanah kaum kami, suku pisang, waupun beliau sudah menikahi wanita lundang. barakallahu fiik.. :)

      Hapus
  50. Alhamdulillah dan terima kasih atas pembahasannya, jd kita sama2 mengerti dg hal2 yg slalu diperdebatkan dlm adat minangkabau...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, mudah-mudahan bermanfaat da. barakallahu fiik :)

      Hapus
  51. Ini tidak dikaji, hanya sanggagan penulis saja

    BalasHapus
  52. Tapi Zaman kini iyo alah jauh sanak,
    adat ditinggaan nan agamo dilupoan

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu mangko paralu peran aktif urang tuo da. ndak cukuik sekedar maagiah pitih miang ka anak, tapi yo pendidikan moral jo liveskill nan paliang paralu

      Hapus
  53. Subhanallah,,,,ditunggu tulisan yang lainnya,,,,,krn saya yakin masih ada permasalahan lain yang perlu diluruskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah da. mohon doa. barakallahu fiik :)

      Hapus
  54. sehubungan dengan keterangan no.4,umat islam wajib hukumnya untuk taat kepada ke dua orang tua, dan bagi istri pun wajib taat kepada suaminya, apa bila adat menyarankan untuk tingal di tempat orang tua istri, apakah no.4 tidak bisa menimbulkan hubungan kasih sayang antara suami dengan orang tuanya makin berkurang? adat di buat oleh manusia, sedangkan ketentuan agama adalah ketentuan ALLLAH, bener menurut analisa pikiran kita, belum tentu benar menurut agama, benar menut agama, sudah pasti benar menurut umatnya...
    semoga saya dan kalian semua di jauhakan dari godaan setan yang terkutuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. kok ka bantuak itu sarancakno anak laki2 ndak usah marantau, ndak usah sakola di pondok, ndak usah manikah bagai da. supayo total 100% utk urg tuo.. barakallahu fiik :)

      Hapus
  55. sangat2 jelas penjabarannya. tarimokasih untuak tulisannyo.
    !

    BalasHapus
  56. Da, batanyo wak ciek da...
    Baa kok bacarai, laki nan pai da, ndk ado mambao ciek alahnyo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dek karano laki tingga di rumah bini da. kok bini tingga di rumah laki, tantu bini nan pai :)

      Hapus
  57. Assalamualaikum wr.wb uda kalau buliah tau buku buku rujukan uda tu bisa bali dima yo?
    Tarimo Kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. cubo tanyo di toko irama di aua bukiktinggi. cukuik lengkap untuak buku-buku klasik bahaso arab.

      Hapus
  58. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  59. Saya suku sunda dan menikah dg suku minangkabau, suami saya. Tetapi saya yang mengikuti ke daerah suami, suami saya dekat dengan keluarganya jadi nggak bisa jauh dari keluarganya. Saya yg harus jauh dari keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah. mamak saya juga begitu, istrinya mengikuti beliau.

      Hapus
  60. Bagus penjabarannya,simpel n elegant.
    Menurut hemat saya,soal nasab itu memang dr pihak laki2,yg terakumulasi dlm pemberian gelar yg dihormati pihak perempuan,yaitu gelar sidi,sutan,dan bagindo.dr segi etimologi,sidi berarti bapaknya keturunan arab,sutan bapaknya keturunan gujarat/india,sedangkan bagindo bapaknya keturunan swarnadhipa.demikian munkin,tolong bun admin diperjelas dan dipertegas lg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga tidak menguasai sejarah penamaan suku itu jo. mudah-mudahan nanti ada referensi.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  61. Alhamdulillah dan terimakasih atas penjabaran ini, karena saya bisa lebih menjelaskan lagi mengenai adaik Minang yang sesungguhnya, karena tak jarang banyak yang mencibir tatanan adat dari Minang

    BalasHapus
  62. Assalamu'alikum da
    Awk ka batanyo, ,awak pacaran sasuku da tapi awak lai beda nagari smo padusi nyo da
    Apo lai buliah awak minah sasuku tapi beda nagari da..?
    Mohon informasi nyo da

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikumsalam warahmatullah. manikah buliah, tapi pacaranno indak. ancak capek dibaok ka pak kua daripado takabek di nan haram jo :)

      Hapus
  63. makasi sanak..
    bangga ambo jadi anak minang kabau..
    banyak manfaat nyo ilmu nan sanak tarangi.. bekal ank cucu bisuak..
    kok lai panjang umua.. ambo lai anak sungai pua.. kampaung ambo lai pedang mancari sarung.. tapi sasuku dima juo nagari nyo tetap ndak bisa nikah..
    tampek ambo yo..

    BalasHapus
  64. makasi sanak..
    bangga ambo jadi anak minang kabau..
    banyak manfaat nyo ilmu nan sanak tarangi.. bekal ank cucu bisuak..
    kok lai panjang umua.. ambo lai anak sungai pua.. kampaung ambo lai pedang mancari sarung.. tapi sasuku dima juo nagari nyo tetap ndak bisa nikah..
    tampek ambo yo..

    BalasHapus
    Balasan
    1. samo2 da.
      tapi ustad masykur 5 jurai suku liau pisang da, bini liau pisang lo, tapi baso. lai aman jo sampai kini. :)

      Hapus
  65. kalau ado yg mamperdebatkan berarti bukan urg minang..

    BalasHapus
  66. hanya agama islam dan adat minang kabaulah yg menjujunjun tinggi harkat dan martabat perempuan

    BalasHapus
  67. Bagus sekali tulisan penulis, cuman 1 yg tdk sependapat dg penulis, penulis mengatakan : hanya perkara wajib yg tdk boleh diharamkan, sesungguhnya sesuatu yg mubah juga tdk boleh diharamkan, asbabunnuzul surat At tahrim adlh ketika rosullah SAW, mengharamkan madu utk dirinya sendiri, utk mengharapkan riha para istrinya, maka Allah SWT, menurunkan surat at tahrim utk menegur Rasullah SAW.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak komentar bapak. tetapi agaknya perlu dikaji kembali, yang saya tulis adalah 'melarang', bukan 'mengharamkan'. efek dari larangan dan pengharaman itu berbeda.
      kedua, kita jangan mudah mengambil hukum langsung dari hadits tanpa tahu 'a'radh dalil tsb. kita harus tahu juga apa efeknya jika nabi shallallahu alaihi wasallam mengharamkan sesuatu. dan lagi, yang dilakukan nabi adalah mengharamkan, bukan melarang.
      lalu yang perlu bapak lihat lagi, bagaimana dengan posisi nazar, misalnya orang yang mengatakan, saya bernazar untuk tidak memakan daging kambing. apakah dia berdosa?
      singkatnya, berhukum dengan quran sunnah itu tidak sesempit mengetahui asbabunnuzul dan terjemahan dalil saja. banyak hal lain yang harus diketahui pak.

      wallahu a'lam.

      Hapus
  68. bagaiman dengan menikahi sepupu....?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dalam fikih secara umum, boleh. kalau dalam adat pun boleh asal tidak satu suku. istilahnya "pulang ka mamak" dan "pulang ka bako"

      Hapus
  69. Bagaimana kalau ada yang melarang menikah sesuku da, seperti mamak atau lainnya, walaupun ternyata kami beda datuak dan beda nagari, dan bagaimana saya harus bersikap apabila saya tetap keras ingin menikahi si wanita yang sesuku namun berbeda nagari dengan saya,karna secara agama tindakan saya sah, namun terkendala dalam adat, dan kita tahu kalau adat terlanggar masalah sosial kita sendiri yang akan bermasalah. Terimakasih da.

    BalasHapus
    Balasan
    1. manikah saja, kemudian tinggal di kampung perempuan. jangankan beda nagari. satu nagari satu suku pun bisa menikah. syaratnya, si perempuan bapindah payuang dulu kepada datuak di kanagarian lain, sehingga dia sudah dianggap beda nagari. setelah itu baru menikah.

      Hapus
    2. analisanya secara medis, jangan menikah dengan orang yg terlalu dekat hubungan darahnya. bisa menyebabkan keturunan yg cacat fisik atau batin.

      Hapus
  70. Assalamu alaikum...terima kasih atas semua penjelasan dan ilmu yg telah di bagikan kepada kami,skrg saya pribadi merasa puas setelah membaca postingan dari saudara "fakhri emil habib",saya jadi tambah mengerti begitu kuatnya hubungan antara agama kita islam dgn adat kita minang kabau,semoga semuanya menjadi ilmu yg bermanfaat bagi kita semua dan jadi amal ibadah yg baik buat sdr fakhri emil habib...amiin ya Allah
    terima kasih yg sebesar-besarnya dari saya anak kemenakan dari kaum piliang
    assalamu alaikum dunsanak ambo

    BalasHapus
  71. alam takambang jadi guru

    genes mitochondrial DNA are only passed down through the female line.
    Only woman can pass such genes to their offspring, and only her daughters can pass on the genes to their childrens..
    matrilineal mengikut alam tak terbantahkan

    BalasHapus
  72. Adat minang yg asli sudah Punah sejak kekalahan kaum Adat oleh kaum Paderi>>>Tanah Minang adalah Pusat Hindu di Sumatera>>>jejaknya dapat dijumpai dari nama-nama Kota yg sampai kini masih dilesatrikan>>>contoh Kota BATU SANGKAR adalah kotanya Dewa Siwa>>>>BATU SANGKARA>> adalah BATU LINGGA>>>batu bernentuk LINGGA = SANGKAR (A)>>>kEKALAHAN KAUM Adat mengakhiri adat dan Budaya Minang Hindu dan menjadi Minang Islam (timur tengah).

    BalasHapus
  73. Tanya Da....
    Harta pusako tinggi dan rendah, siapa yang akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. harta bersama, pertanggungjawaban bersama. utamanya tanggung jawab pimpinan kaum (datuak)

      Hapus

Mengenai Saya

Foto saya

Hanya seorang kawan, yang ingin menjadi lebih baik, dan berbagi manfaat :)
 
Support : Facebook | Twitter | Google+
Copyright © 2013. Al-Fatih Revolution Brotherhood - Tolong sertakan sumber saat mengutip :)
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger